Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

Kompetiblog 2012

Tentang Kompetiblog 2012

Apr 09, 2012

studyinhollandlogo

Kompetiblog Studi di Belanda adalah kompetisi menulis blog yang diadakan oleh Neso Indonesia. Kegiatan ini bersifat rutin dan tahun 2012 adalah tahun ke-4 penyelenggaraan Kompetiblog Studi di Belanda. Tulisan peserta memuat pengetahuan, pendapat serta pengalaman individu sesuai dengan tema yang ditetapkan oleh panitia. Dua orang pemenang utama kompetisi ini akan berkesempatan mengikuti summer course di Utrecht Summer School, Utrecht, Belanda selama dua minggu.

Tema kompetisi:
“Dutch Creativity”

Holland is a creative nation. Dutch people enjoy innovating and constantly ask themselves and others questions to come up with new ideas. How is this creativity reflected in the Dutch education?

-  Peserta dapat menerjemahkan tema dan menggunakan berbagai pendekatan.

Waktu kompetisi:
16 April – 15 Mei 2012

Hadiah:

1. Summer course di Utrecht Summer School, Belanda (2 orang)

2. Smartphone (1 orang)

3. Digital camera (1 orang)

Informasi mengenai teknis pelaksanaan dapat dibaca disini.

Belajar seni tradisional Indonesia hingga ke kota Leiden, itulah yang dilakukan oleh Trisa Melati. Setelah mendapatkan gelar sarjana jurusan Kriya Tekstil dari ITB, wanita asal Bandung ini kemudian mengambil program Master of Art History di Leiden Universiteit pada tahun 2010 lalu. Universitas Leiden yang juga universitas pertama kali di Belanda menjadi pilihan yang sulit terlewatkan jika ingin studi di Belanda. Fakta ini dialami oleh Trisa pada saat dia berkeinginan untuk mengambil gelar Master mengenai seni tradisional, Trisa mendapat beberapa referensi dari teman dan informasi dari brosur mengenai Universitas Leiden sebagai institusi terlengkap dalam mempelajari seni tradisional Indonesia.

Tingginya kualitas ilmu dan standar penilaian yang diberikan oleh para dosen di Leiden, membuat Trisa tidak bisa bersantai-santai pada semester awalnya di Leiden. Trisa terbawa dengan atmosfir kelas yang disiplin dan giat menggali ilmu demi menguasai ilmu dasar dari subjek yang dibahas di kelas. Studi di Leiden tidak hanya padat namun juga menarik karena para dosen memberikan kebebasan dan menyediakan bimbingan untuk mengembangkan apa yang menjadi ketertarikan masing-masing individu. Trisa yang tidak terbiasa ‘dilepas’ seperti ini harus mencari tahu kembali mengenai topik apa yang sebenarnya dia mau fokuskan. Proses pencarian materi ataupun jurnal menjadi mudah  karena mengandalkan teknologi informasi yang memberikan akses akan perpustakaan dan database berbagai jurnal internasional yang ada. Trisa berpendapat bahwa di Leiden semua informasi sepertinya ada dan praktis untuk didapatkan.

Kehidupan sosial Trisa di kota Leiden juga sangat terbantu dengan bergabungnya dia di PPI Leiden. Komunitas PPI sering memberi info mengenai lowongan kerja part-time yang ada, alhasil pada semester kedua Trisa bisa bekerja paruh waktu dan dibayar di restaurant Indonesia. Hampir di setiap bulan, PPI Leiden mengadakan acara diskusi baik tentang ekonomi, politik atau sejarah; jika ada tokoh penting akademisi yang akan ke Leiden, PPI juga sering mengundang tokoh tersebut menjadi narasumber dalam diskusi mereka. Trisa juga menikmati pergaulannya bersama mahasiswa internasional lainnya; Trisa menjadi terbiasa beradu pendapat dengan mahasiswa internasional yang terkenal gigih dalam mempertahankan pendapat masing-masing namun bisa diutarakan secara langsung tanpa merusak arti pertemanan mereka. Inilah pengalaman hidup di Leiden, penuh akan toleransi dan kebersamaan yang membangun setiap individu.

Trisa yang mengambil topik thesis mengenai Ornamen Dayak awalnya bertanya pada dosen dan meminta arahan, kemudian Trisa mendapat saran untuk bekerja magang di Museum Volkenkunde (Museum Etnologi) bagian research yang bisa membantu Trisa dalam mencari informasi mengenai ornamen suku dayak. Museum Volkenkunde merupakan museum terlengkap di Belanda dalam hal koleksi material budaya dari berbagai suku di dunia. Untuk koleksi dari Kalimantan saja ada sekitar 5000 benda dan Trisa ikut mencari serta menginput informasi mengenai benda-benda berornamen dayak tersebut. Jika tidak ada halangan, Trisa akan menyelesaikan thesisnya pada tahun 2011 ini dan dia kemungkinan akan mengambil kesempatan zoekjaar, 1 tahun masa pencarian kerja di Belanda yang ditawarkan oleh pemerintah Belanda bagi  setiap lulusan internasional. Satu hal yang pasti, Trisa berencana pulang ke Indonesia dan akan mencoba menjadi seorang peneliti atau dosen di Universitas yang bisa diajak kerjasama untuk riset. Bagi seorang Trisa Melati yang penting dia bisa pakai ilmu seni yang sudah dia pelajari di Belanda bagi daerah-daerah di Indonesia.

Apa kata Trisa untuk semua yang mau bergabung studi di Belanda?

“Belanda adalah satu negara yang kecil tapi segala macam ada, anda bakal ketemu banyak orang dari semua negara untuk membangun network. Satu pengalaman yang bakal memudahkan anda ke depannya.” -  Trisa Melati

Trisa Melati

Master of Art History -Leiden Universiteit

Studi di Belanda merupakan sebuah tantangan berharga untuk hidup mandiri, mempelajari ilmu pengetahuan dan kehidupan. Ya, ini yang dikatakan oleh kebanyakan orang yang  pernah menjalani studi di Belanda; salah satunya adalah Laurentius Regi, yang pada tahun 2003 tiba di de Haagse Hogeschool Den Haag mengambil program Bachelor of European Studies. Pertama kali berinteraksi di lingkungan internasional sempat membuat Regi menjadi canggung karena tidak familiar dengan suasana dan bahasa yang bukan Indonesia. Satu fakta bahwa hampir semua penduduk Belanda bisa menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi memudahkan Regi menghilangkan kecanggungannya saat beradaptasi dengan komunitas internasional.

Pada tahun pertama yang disebut foundation year, Regi belajar konsep utama dari subjek yang ada mengenai Eropa itu sendiri disertai dengan tugas dan projek. Foundation Year ini biasanya menentukan apakah mahasiswa sanggup lanjut studi di tahun kedua dan ketiga untuk program penjurusan atau justru kemungkinan besar akan angkat kaki dari de Haagse. Regi tentu berhasil melanjutkan studinya hingga lulus dan mengambil Business Public Relation sebagai penjurusannya. Pada tahun kedua dan ketiga ini, gaya hidup disiplin Regi terbentuk karena harus menentukan jadual harian, membuat target dan mengejar deadline ketat dari setiap presentasi dan tugas kuliah yang diberikan. Regi juga pandai dalam mengatur keuangan akibat dari perbedaan Rupiah dan Euro. Biaya hidup yang tidak murah memotivasi Regi untuk belajar giat agar bisa lulus tepat waktu.

Di Den Haag, Regi belajar menjadi chef pemula saat agar bis menghemat biaya daripada setiap hari makan di café. Bergabungnya Regi di PPI Den Haag ternyata sangat menolong Regi dalam mengenal berbagai masakan. Regi bergabung dengan Breakfast Club yang berisi para pelajar yang memang hobi kuliner, mereka memasak dan menyantap sarapan pagi bersama-sama sambil saling bersosialisasi dan berbagi tips hidup di Den Haag. Kesibukan kuliah tidak berarti tidak ada waktu untuk have life, Regi juga menikmati setiap momennya ngopi di café, main billiard dan kegiatan sosial lainnya bersama para pelajar mancanegara. Status pelajar Regi juga memberikan banyak korting-an saat menggunakan fasilitas kendaraan umum dan juga berbagai temoat seperti Museum ataupun atraksi lain yang ada di sana.

Setelah mendapat gelar Bachelor, Regi kembali untuk bekerja di Indonesia sesuai dengan keinginan awalnya. Pengalaman magang di salah satu bernama Java Trade House yang menjembatani ekspor-impor antara Indonesia dan Belanda, sudah cukup memperlengkapi Regi untuk masuk dalam dunia kerja setelah lulus kuliah. Bekerja magang di Belanda dengan suasana multikultural menjadi modal berharga bagi Regi yang sekarang ini juga bekerja pada bagian Marketing & Business Development di perusahaan asal Jerman bernama TUV-Rheinland. Penerapan nilai-nilai toleransi yang diadopsi saat studi di Belanda membuat Regi tidak lagi kesulitan saat bekerja di perusahaan multinasional tersebut.

Regi percaya bahwa selama setiap orang berada di jalan yang benar, maka orang tersebut akan menjadi orang yang benar. Prinsip itulah yang membuat Regi berhasil dalam studinya hingga mendapatkan karir yang baik sekarang dan suatu saat nanti mendirikan perusahaannya sendiri. Laurentius Regi berpendapat bahwa studi di Belanda bisa menjadi pilihan terbaik bagi setiap orang yang ingin studi ke luar negeri. Bagi Regi Studi di Belanda adalah kesempatan untuk belajar karena Belanda merupakan tempat yang baik untuk mengembangkan kehidupan. Belajar dengan sistem yang bagus seperti di Belanda membentuk pribadi kita yang nantinya bisa kita tularkan juga bagi Indonesia.

Laurentius Regi

Bachelor of European Studies – De Haagse Hogeschool

Menikmati hangatnya sinar matahari di teras kafe Den Haag saat Musim Semi. Impresi tersebut adalah salah satu dari banyaknya momen favorit Albert saat dia menjalani program Bachelor of Information Technology di De Haagse Hogeschool mulai tahun 1998. Bagi Albert, Studi di Belanda adalah memang menyenangkan namun tidak berarti bahwa itu adalah sesuatu yang mudah. Jika sebelumnya Albert terbiasa dengan kehidupan Jakarta yang cukup mudah karena adanya pembantu yang mencucikan baju dan menyiapkan makanan ataupun membersihkan rumah; maka setibanya di Belanda, semua itu harus dilakukan oleh Albert sendirian. Hal ini mengajarkan arti kemandirian dalam diri Albert hingga sekarang dia menjadi pribadi yang dewasa.

Studi di De Haagse Hogeschool, Den Haag adalah pengalaman yang berharga bagi Albert dalam mendapatkan ilmu pengetahuan di bidang IT. Pemahaman konsep menjadi hal yang sangat mendasar dan penting dalam memberikan materi pengajaran, setiap konsep ataupun rumus-rumus tidak diberikan dengan picisan namun dengan detail dan mendalam hingga para mahasiswa bisa mengerti betul konsep dasarnya dan tidak hanya sekedar tahu mengenai konsep tersebut. Kurikulum di De Haagse berorientasi pada penerapan teori dalam industri, oleh karena itu juga dosen yang mengajar adalah konsultan yang membawa pengalaman kerja mereka ke dalam materi pembelajaran.

Kesungguhan De Haagse dalam menerapkan kurikulum ini terlihat dari adanya forum dosen bertemu dengan praktisi industri yang membahas mengenai kualitas tenaga kerja yang diperlukan dalam dunia kerja dan bagaimana pihak akademisi bisa memfasilitasi kebutuhan di dunia kerja akan sumber daya manusia yang siap kerja. Satu cara lain dalam memperlengkapi para mahasiswa adalah dengan mengadakan program magang wajib selama 3-6 bulan di tahun kedua dan tahun terakhir. Albert tidak mendapatkan kesulitan dalam mencari kerja magang karena setiap lowongan kerja yang ada dipajang di kampus dan pihak Hogeschool beserta dosen-dosen juga turut membantu para mahasiswa mencari tempat magang. Pada kesempatang magang pertama, Albert bekerja mengurus system IT pada semacam rumah sakit yang mengurus lansia di Den Haag dan pada tahun terakhirnya bekerja bagi salah satu perusahaan fashion Liz Claiborne, lebih banyak berurusan pada Configuration Management.

Kehidupan Albert di luar dari waktu-waktu perkuliahan juga tidak kalah seru. Penduduk yang ramah dan teman-teman international yang lebih terbuka pola pikirnya mengisi kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial. Pada saat jam-jam istirahat bersama teman-teman baru kadang bermain poker diselingi ledekan terhadap ras masing-masing namun tanpa tersinggung dan tetap menyenangkan; menyaksikan big match sepakbola seperti PSV-Eindhoven vs Ajax secara langsung ataupun di café bersama teman-teman adalah contoh dari sifat kebersamaan nan toleran dalam berteman di komunitas internasional. Menjelajahi kota-kota dan negara-negara lain di Eropa, merasakan duduk di kereta yang nyaman ataupun naik perahu mengitari kanal-kanal Belanda memberikan kesan unik dari studi di Belanda yang juga pintu gerbang Eropa.

Setelah menyelesaikan masa studinya, Albert kemudian pulang kembali ke Indonesia dan sempat bekerja di perusahaan besar seperti Symantec sebelum sekarang bekerja pada perusahaan multinasional asal Singapore bernama Imperium Solution sebagai IT-Consultant. Ilmu yang didapatkan Albert di Belanda bisa diaplikasikan dan sangat relevan dengan pekerjaannya sekarang ini. Albert memiliki harapan bahwa 3-5 tahun ke depan dia bisa bekerja dengan baik dan mulai merintis karirnya menjadi seorang pengusaha.

“Kalau ingin studi terutama memperdalam materi mendingan studi di Belanda. Di Belanda kita diajarkan pola pikir yang terbuka dan melakukan sesuatu yang out of the box.” - Albert Lay

Albert Lay

Bachelor of Information Technology – De Haagse Hogeschool

Study excursion

Study excursion

If you are confused on what you want to do this summer holiday and you don’t want to spend a giant waste of time, doing nothing at home and prowling at the malls with your friends, you may want to consider taking summer courses to keep the brain from idling.

Summer course is a wonderful opportunity for the students to take part in. It is an incredible opportunity to learn the subjects you really want, make friends with people across the globe and discover new ideas. Want to combine summertime learning with a chance to see the other side of the world? Several Dutch education institutions are offering summer courses on various subjects, from culture to life science to entrepreneurship. Choose your study programme and embark on an enriching course filled with discoveries.

Leiden University

Leiden University, the oldest university in the Netherlands, is offering its summer school programmes starting in June to July 2011. The available summer school programmes that you may opt are:

The Leiden Summer School in Languages and Linguistics (18-29 July) offers courses on a wide range of subjects. The six programmes include courses for beginners and advanced students, taught by internationally renowned specialists.

Summer School on International Criminal Law (20 June to 1 July 2011)
The Bilingual Summer School takes place in the International City of Peace and Justice and offers a unique opportunity to gain expertise in International Criminal Law, by combining theory and practice. For more information: www.grotiuscentre.org .

Summer School on Women, Peace and Security (13 to 24 June 2011)
The Grotius Centre and Oxfam-Novib organize a summer school on UNSC resolutions 1325 and 1820, which discuss the role of women in peace negotiations, reconciliation and peacekeeping. Lectures and workshops will be given by academics and representatives from NGO’s working in this field. More information: www.grotiuscentre.org .

Utrecht Summer School

Utrecht Summer School is organized by Utrecht University and HU University of Applied Science. It offers 130 strong, academic summer courses, in a wide range of subjects, from culture to law and sciences. The length of the courses is varied, from 1 to 6 weeks, in the months of June, July and August 2011.

Utrecht Summer School not only offers you a fine selection of interesting courses in all kind of disciplines, it also aims at giving the participants an unforgettable stay. During the months of July and August, you may attend various attractive social programmes, including excursions, sports and social gatherings and festivities. The activities will provide the perfect setting for you to meet international students from other summer school courses and to get to know your classmates better!

Not only that, Utrecth Summer School also provides accommodation for the students for free. The rooms provided are fully furnished and decorated with shared facilities. This is a great opportunity for you to share ideas and connect with students from other parts of the world.

This year, Utrecht Summer School celebrates its 25th anniversary. You may not want to miss out their special events, each dedicated to a special topic, from the crisis in Europe to the climate dilemma.

You can view all course details on our website: http://www.utrechtsummerschool.nl/

Online brochure can be viewed at: http://utrechtsummerschool.nl/brochure.html

University of Twente’s Summer School

The Netherlands Institute for Knowledge Intensive Entrepreneurship (NIKOS) from the University of Twente, Netherlands, organizes an international summer school on “Entrepreneurship & Technology Venturing”.

The summer school answers the following questions:

“How to create a successful business?” and “How to support entrepreneurship?”

This summer school will be interesting for people (students, graduates, managers, etc) who want to start or accelerate their own high-tech business, and for people (university lecturers, incubator staff, policy makers, etc.) who want to support entrepreneurship from their university or in their region. Please see the preliminary program on the website.

http://www.utwente.nl/mb/nikos/teaching/summerschooltechnologyventuring2011/

Tilburg University Summer School

Tilburg University Summer School is offering an intensive academic course combined with cultural and social activities. Courses are varied from business programme to law and if you are dying to learn foreign languages, Tilburg University Summer School provides Spanish language and Dutch languages, from beginner level. Another unique course that Tilburg University Summer School is offering is the philosophy course on The Tragic and Its Limit. For those of you who are interested in philosophy and the question of life, you might not want to miss this.

For the ultimate Summer School experience, Tilburg University Summer School organizes a special Social Program. Experience Tilburg and its surroundings, participate in cultural events, sports and exciting excursions together with your fellow Summer School students. Upon registration, you choose one of our social packages depending on how much fun you can handle.

http://www.tilburguniversity.edu/education/summerschool/