Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

Archive for April, 2009

Ingin lebih jelas dalam membayangkan Studi di Belanda? Semoga video yang di upload di youtube ini bisa memberikan gambaran tentang bagaimana  menjadi mahasiswa di Belanda.

Jadwal Online Counseling Neso Indonesia sekarang bertambah.

Yang tertarik ingin bertanya dan berkonsultasi tentang semua infomasi Studi di Belanda silakan meng-add Yahoo Messenger studidibelanda.

Kalau punya pertanyaan tentang:

- program studi

- universitas dan proses pendaftarannya

- biaya hidup

- dan lain sebagainya

Sekarang kami hadir:  Senin-Jumat jam 14.00-15.00 WIB

amelia-sentosaSegera setelah lulus SMA, Amelia Santosa sudah mantap memilih program studi Musik, dalam benaknya Eropa adalah pilihan tepat, karena disinilah sumbernya musik klasik.

“Tahun 2004, konservatorium belum ada di Indonesia sehingga pilihan ditujukan ke luar negeri” ungkapnya. Diawali info dari guru di sekolah lalu mencari informasi dari Neso, akhirnya pilihan jatuh ke Belanda. Kenapa Belanda? Alasan utamanya adalah karena program disampaikan dalam bahasa Inggris.

Amel menggambarkan Codart sebagai kampus yang sangat internasional. Separuh mahasiswanya adalah mahasiswa asing. Namun justru ini keunggulannya, karena beragamnya latar belakang mahasiswa, khasanah pengetahuan musiknya menjadi sangat kaya karena pengaruh yang dibawa oleh teman-teman dari seluruh dunia. “Saya merasa lebih lengkap sebagai musisi, dan ini yang membuat saya menikmati kuliah di Codart”. Pengalaman membawanya mengikuti beberapa acara, tidak hanya di Belanda, bahkan ke negara-negara Eropa lainnya. Konser piano solo di Leiden dan di salah satu museum di Belgia adalah contoh kegiatan yang pernah dijalankannya. Saat wawancara dilakukan,  Amel sedang mempersiapkan kepergiannya ke Malta untuk mengikuti International String Music Festival. Sedangkan Bulan Mei mendatang, dia sudah tercatat mengikuti contemporary master course di Switzerland.

Satu hal yang digarisbawahi olehnya, “Networking sangat penting” mengingat Amel sering mendapet banyak tawaran dari dosen dan teman-temannya. Meskipun terkadang tidak dibayar, namun pengalaman yang diperolehnya jauh lebih berharga.

Amelia Santosa, Codarts University for the arts.

Untukku ala Groningen

Menjadi mahasiswa Indonesia di Belanda bukan hal yang mudah. Kerinduan akan Indonesia dan menjadi minoritas di negara orang terkadang malah meningkatkan kreativitas . Sebuah video yang menghibur pernah di buat oleh para mahasiswa Indonesia di kota Groningen karena rindu dengan tanah air.

Berminat membuat video lain suatu saat?

img_1351Suara merdu soprano cilik itu terngiang-ngiang di telinga saya. Bak malaikat kecil, ia menyanyikan lagu “Pie Jesu” yang digubah oleh Andrew Lloyd Weber dengan sangat indahnya. Dia adalah Charlotte Church yang pada usia ke-12nya meluncurkan album lagu-lagu klasik pertamanya. Dialah yang pertama kali menginspirasi saya dalam hal memilih profesi saya kelak, yaitu menjadi penyanyi klasik/seriosa. Saat itu saya masih berumur 11 tahun, namun tekad hati untuk mewujudkan cita-cita saya sudah bulat. “Suatu hari, saya harus bisa seperti dia!”, tutur saya dalam hati. Semenjak itulah saya memutuskan untuk menekuni bidang tarik suara dengan lebih serius dan mantap. Dan….Voilà! Inilah saya sekarang, mahasiswi musik tahun ke-3 di !

Tak disangka-sangka, tekad bulat sedari kecil membawa saya sampai ke kota Utrecht, kota terbesar keempat di Belanda. Utrecht juga terkenal sebagai salah satu kota tertua di Belanda. Tak heran jika disini masih bisa ditemukan banyak peninggalan-peninggalan dari zaman Barok yang secara otomatis menjadikan Utrecht sebagai kota kebudayaan dan kesenian. Banyak sekali festival-festival musik, teater, dan tari yang berlangsung disini. Inilah salah satu alasan kenapa saya memilih untuk belajar di Utrecht. Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan musik dimana-mana, seperti kentang goreng yang bisa ditemukan dimana saja di Belanda. Terlebih lagi juga karena lingkungan belajarnya yang cukup internasional dan mendukung perkembangan jaringan antar musisi.

Ternyata untuk menjadi musisi profesional, tak hanya dibutuhkan talenta dan musikalitas semata, tetapi teknik juga merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan permusisian kita. Mengasah teknik merupakan bagian yang paling esensial di Konservatorium musik. “Teknik, teknik, teknik!”, itulah semboyan dari Cecillia Bartolli, salah satu mezzo soprano terkenal dunia dari Italia. Dan saya baru mengerti arti sebenarnya setelah benar-benar berkecimpung di dunia permusikan ini. Sebagai musisi profesional, kita dituntut untuk selalu melatih teknik secara rutin supaya otot-otot kita terbiasa dengan posisi-posisi tertentu, yang nantinya dapat memudahkan kita dalam mengungkapkan dan menyampaikan ide musikalitas kita kepada orang lain. Tak heran jika anak-anak konservatorium sehari-harinya selalu menghabiskan waktu untuk latihan dari pagi sampai malam hari. Jangka waktu latihannya bervariasi, tergantung instrumen apa yang menjadi spesialisasinya. Bagi para pianis, mereka disarankan untuk latihan paling tidak 5 sampai 6 jam sehari. Lain halnya dengan vokalis, kami tidak bisa latihan terlalu lama dikarenakan oleh kondisi pita suara kami yang sangat “fragile”. Tapi yang paling penting, harus selalu rutin latihan!

Disisi lain, musik tidak sebegitu rumitnya juga untuk diwujudkan. Musik merupakan bahasa yang paling universal kata banyak orang. Saya mengalami sendiri bagaimana musik bekerja dengan hebatnya untuk setiap orang. Tak perlu satu bahasa, satu kewarganegaraan, kita semua bisa membuat musik bersama. Saya disini mendapat pelajaran “Community Music”, yaitu bagaimana kita bisa membuat dan bermain musik bersama dengan orang lain yang levelnya belum tentu sama dengan kita. Contohnya anak-anak kecil.

Dengan beberapa teman internasional, saya pergi ke suatu sekolah dasar untuk mengajar musik disana sebagai tugas akhir tahun. Betapa kagetnya saya melihat keantusiasan anak-anak tersebut. Definisi belajar musik tidak hanya semata-mata belajar membaca not balok, kord, tangga nada, dll. Belajar musik bisa juga dengan sesuatu yang simpel, seperti clapping game dengan beat/tempo tertentu atau meminta mereka untuk memimpin orkestra perkusi yang memungkinkan mereka untuk membuat berbagai macam dinamik tampa harus pusing dengan untaian nada dan not. Tidak hanya soal bagaimana mengeluarkan suara yang merdu atau permainan melodi yang sempurna, tapi juga kesempatan dan kebebasan mereka untuk “making music”. Hanya dengan Bahasa Belanda yang tidak seberapa fasih, mereka ternyata bisa mengerti semua instruksi kami. Hanya dengan musik, semuanya mungkin!

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pegangan saya untuk selalu berada di jalur yang seimbang. Talenta dan musikalitas jelas diperlukan dalam hal ini, namun harus didukung juga dengan teknik bermain musik atau bernyanyi yang benar sebagai bekal ilmu menuju dunia musik profesional nantinya.

(Bernadeta Astari, Mahasiswi musik di Konservatorium Utrecht, Belanda)