Menikmati hangatnya sinar matahari di teras kafe Den Haag saat Musim Semi. Impresi tersebut adalah salah satu dari banyaknya momen favorit Albert saat dia menjalani program Bachelor of Information Technology di De Haagse Hogeschool mulai tahun 1998. Bagi Albert, Studi di Belanda adalah memang menyenangkan namun tidak berarti bahwa itu adalah sesuatu yang mudah. Jika sebelumnya Albert terbiasa dengan kehidupan Jakarta yang cukup mudah karena adanya pembantu yang mencucikan baju dan menyiapkan makanan ataupun membersihkan rumah; maka setibanya di Belanda, semua itu harus dilakukan oleh Albert sendirian. Hal ini mengajarkan arti kemandirian dalam diri Albert hingga sekarang dia menjadi pribadi yang dewasa.
Studi di De Haagse Hogeschool, Den Haag adalah pengalaman yang berharga bagi Albert dalam mendapatkan ilmu pengetahuan di bidang IT. Pemahaman konsep menjadi hal yang sangat mendasar dan penting dalam memberikan materi pengajaran, setiap konsep ataupun rumus-rumus tidak diberikan dengan picisan namun dengan detail dan mendalam hingga para mahasiswa bisa mengerti betul konsep dasarnya dan tidak hanya sekedar tahu mengenai konsep tersebut. Kurikulum di De Haagse berorientasi pada penerapan teori dalam industri, oleh karena itu juga dosen yang mengajar adalah konsultan yang membawa pengalaman kerja mereka ke dalam materi pembelajaran.
Kesungguhan De Haagse dalam menerapkan kurikulum ini terlihat dari adanya forum dosen bertemu dengan praktisi industri yang membahas mengenai kualitas tenaga kerja yang diperlukan dalam dunia kerja dan bagaimana pihak akademisi bisa memfasilitasi kebutuhan di dunia kerja akan sumber daya manusia yang siap kerja. Satu cara lain dalam memperlengkapi para mahasiswa adalah dengan mengadakan program magang wajib selama 3-6 bulan di tahun kedua dan tahun terakhir. Albert tidak mendapatkan kesulitan dalam mencari kerja magang karena setiap lowongan kerja yang ada dipajang di kampus dan pihak Hogeschool beserta dosen-dosen juga turut membantu para mahasiswa mencari tempat magang. Pada kesempatang magang pertama, Albert bekerja mengurus system IT pada semacam rumah sakit yang mengurus lansia di Den Haag dan pada tahun terakhirnya bekerja bagi salah satu perusahaan fashion Liz Claiborne, lebih banyak berurusan pada Configuration Management.
Kehidupan Albert di luar dari waktu-waktu perkuliahan juga tidak kalah seru. Penduduk yang ramah dan teman-teman international yang lebih terbuka pola pikirnya mengisi kebutuhan manusia sebagai mahluk sosial. Pada saat jam-jam istirahat bersama teman-teman baru kadang bermain poker diselingi ledekan terhadap ras masing-masing namun tanpa tersinggung dan tetap menyenangkan; menyaksikan big match sepakbola seperti PSV-Eindhoven vs Ajax secara langsung ataupun di café bersama teman-teman adalah contoh dari sifat kebersamaan nan toleran dalam berteman di komunitas internasional. Menjelajahi kota-kota dan negara-negara lain di Eropa, merasakan duduk di kereta yang nyaman ataupun naik perahu mengitari kanal-kanal Belanda memberikan kesan unik dari studi di Belanda yang juga pintu gerbang Eropa.
Setelah menyelesaikan masa studinya, Albert kemudian pulang kembali ke Indonesia dan sempat bekerja di perusahaan besar seperti Symantec sebelum sekarang bekerja pada perusahaan multinasional asal Singapore bernama Imperium Solution sebagai IT-Consultant. Ilmu yang didapatkan Albert di Belanda bisa diaplikasikan dan sangat relevan dengan pekerjaannya sekarang ini. Albert memiliki harapan bahwa 3-5 tahun ke depan dia bisa bekerja dengan baik dan mulai merintis karirnya menjadi seorang pengusaha.
“Kalau ingin studi terutama memperdalam materi mendingan studi di Belanda. Di Belanda kita diajarkan pola pikir yang terbuka dan melakukan sesuatu yang out of the box.” - Albert Lay
Albert Lay
Bachelor of Information Technology - De Haagse Hogeschool
