Belajar seni tradisional Indonesia hingga ke kota Leiden, itulah yang dilakukan oleh Trisa Melati. Setelah mendapatkan gelar sarjana jurusan Kriya Tekstil dari ITB, wanita asal Bandung ini kemudian mengambil program Master of Art History di Leiden Universiteit pada tahun 2010 lalu. Universitas Leiden yang juga universitas pertama kali di Belanda menjadi pilihan yang sulit terlewatkan jika ingin studi di Belanda. Fakta ini dialami oleh Trisa pada saat dia berkeinginan untuk mengambil gelar Master mengenai seni tradisional, Trisa mendapat beberapa referensi dari teman dan informasi dari brosur mengenai Universitas Leiden sebagai institusi terlengkap dalam mempelajari seni tradisional Indonesia.

Tingginya kualitas ilmu dan standar penilaian yang diberikan oleh para dosen di Leiden, membuat Trisa tidak bisa bersantai-santai pada semester awalnya di Leiden. Trisa terbawa dengan atmosfir kelas yang disiplin dan giat menggali ilmu demi menguasai ilmu dasar dari subjek yang dibahas di kelas. Studi di Leiden tidak hanya padat namun juga menarik karena para dosen memberikan kebebasan dan menyediakan bimbingan untuk mengembangkan apa yang menjadi ketertarikan masing-masing individu. Trisa yang tidak terbiasa ‘dilepas’ seperti ini harus mencari tahu kembali mengenai topik apa yang sebenarnya dia mau fokuskan. Proses pencarian materi ataupun jurnal menjadi mudah  karena mengandalkan teknologi informasi yang memberikan akses akan perpustakaan dan database berbagai jurnal internasional yang ada. Trisa berpendapat bahwa di Leiden semua informasi sepertinya ada dan praktis untuk didapatkan.

Kehidupan sosial Trisa di kota Leiden juga sangat terbantu dengan bergabungnya dia di PPI Leiden. Komunitas PPI sering memberi info mengenai lowongan kerja part-time yang ada, alhasil pada semester kedua Trisa bisa bekerja paruh waktu dan dibayar di restaurant Indonesia. Hampir di setiap bulan, PPI Leiden mengadakan acara diskusi baik tentang ekonomi, politik atau sejarah; jika ada tokoh penting akademisi yang akan ke Leiden, PPI juga sering mengundang tokoh tersebut menjadi narasumber dalam diskusi mereka. Trisa juga menikmati pergaulannya bersama mahasiswa internasional lainnya; Trisa menjadi terbiasa beradu pendapat dengan mahasiswa internasional yang terkenal gigih dalam mempertahankan pendapat masing-masing namun bisa diutarakan secara langsung tanpa merusak arti pertemanan mereka. Inilah pengalaman hidup di Leiden, penuh akan toleransi dan kebersamaan yang membangun setiap individu.

Trisa yang mengambil topik thesis mengenai Ornamen Dayak awalnya bertanya pada dosen dan meminta arahan, kemudian Trisa mendapat saran untuk bekerja magang di Museum Volkenkunde (Museum Etnologi) bagian research yang bisa membantu Trisa dalam mencari informasi mengenai ornamen suku dayak. Museum Volkenkunde merupakan museum terlengkap di Belanda dalam hal koleksi material budaya dari berbagai suku di dunia. Untuk koleksi dari Kalimantan saja ada sekitar 5000 benda dan Trisa ikut mencari serta menginput informasi mengenai benda-benda berornamen dayak tersebut. Jika tidak ada halangan, Trisa akan menyelesaikan thesisnya pada tahun 2011 ini dan dia kemungkinan akan mengambil kesempatan zoekjaar, 1 tahun masa pencarian kerja di Belanda yang ditawarkan oleh pemerintah Belanda bagi  setiap lulusan internasional. Satu hal yang pasti, Trisa berencana pulang ke Indonesia dan akan mencoba menjadi seorang peneliti atau dosen di Universitas yang bisa diajak kerjasama untuk riset. Bagi seorang Trisa Melati yang penting dia bisa pakai ilmu seni yang sudah dia pelajari di Belanda bagi daerah-daerah di Indonesia.

Apa kata Trisa untuk semua yang mau bergabung studi di Belanda?

“Belanda adalah satu negara yang kecil tapi segala macam ada, anda bakal ketemu banyak orang dari semua negara untuk membangun network. Satu pengalaman yang bakal memudahkan anda ke depannya.” -  Trisa Melati

Trisa Melati

Master of Art History -Leiden Universiteit