Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.
“Kalau novel ini merupakan kisah pribadi kami ber-empat, maka novel ini tidak akan pernah selesai”, begitu jawab Adept Lenggana Widiarsa salah satu dari empat penulis novel Negeri van Oranje menanggapi pertanyaan salah satu hadirin yang menganggap bahwa cerita dalam novel ini adalah kisah pribadi para penulis dan bukan cerita fiksi.
“Tentu saja pengalaman pribadi kami selama studi di Belanda tidak bisa terlepas dari novel ini. Pengalaman dari teman-teman kami di masa studi pun banyak yang menginspirasi cerita ini,” imbuh Wahyunigrat.
Lebih dari 50 orang datang pada acara peluncuran novel tersebut Jumat malam minggu lalu di FAB café, yang terletak di toko buku Gramedia, Grand Indonesia.
Negeri van Oranje adalah sebuah novel kolaborasi empat alumni Belanda. Tiga diantaranya adalah penerima beasiswa. Wahyuningrat dan Annisa Tyas Purwanti merupakan penerima beasiswa StuNed pada tahun 2006. Rizki Pandu Permana mendapatkan beasiswa NFP (Netherlands Fellowship Programme) pada tahun 2003. Neso Indonesia merupakan lembaga non profit yang mengurus beasiswa StuNed dan berperan dalam proses administrasi dan seleksi beasiswa NFP.
Suasana santai diselingi gelak tawa mewarnai sesi diskusi. Wahyuningrat yang akrab dipanggil Wahyu berkali-kali tidak dapat menahan tawanya saat menceritakan beberapa pengalaman mereka saat studi di Belanda.
Keingintahuan para hadirin mengenai studi di Belanda membawa Adept dan Wahyu kembali ke masa lalu, mengingat kembali saat-saat bagaimana mereka menempuh studi S2 di Belanda dengan segala suka dan dukanya, dan kemudian membaginya dengan mereka yang hadir. Sayang dua penulis lainnya yaitu Annisa dan Rizki berhalangan datang.
Acara peluncuran novel ini juga digunakan para alumni Belanda sebagai ajang reuni. Banyak rekan seperjuangan para penulis novel NVO saat studi di Belanda dulu yang hadir. Selain itu para penerima beasiswa StuNed yang saat ini sedang mengikuti EAP (English for Academic Purpose) selama 5 bulan di Jakarta dan dijadwalkan untuk berangkat ke Belanda tahun ini juga tak ketinggalan untuk hadir. Mereka sangat tertarik dengan tips-tips mengenai hidup dan studi di Belanda yang sangat detail dan akurat yang terdapat dalam novel berjumlah 477 halaman ini.
Ekki Imanjaya, seorang pengamat film dan alumni dari Universiteit van Amsterdam ikut menyemarakkan diskusi dan memberikan komentarnya terhadap kejelian para penulis NVO dalam mengangkat hal-hal nyata yang dialami oleh para mahasiswa secara detail. Ramuan fiksi dan informasi yang diperlukan bagi mereka yang hendak melanjutkan studi di Negara kincir angin ini disajikan dengan tepat sehingga enak untuk dinikmati.
“Kami dari Neso Indonesia bangga dengan bakat keempat alumni Belanda ini. Kami merasa buku ini akan sangat berguna bagi para mahasiswa yang akan berangkat ke Belanda dan oleh karena itu berencana untuk memberikan novel NVO kepada setiap penerima beasiswa yang akan berangkat ke Belanda tahun ini”, begitu komentar Monique Soesman, Head of Scholarships section Neso Indonesia ketika dimintai pendapatnya tentang novel NVO.
Diskusi semakin hangat dengan banyaknya pertanyaan dari yang hadir. Pembagian door prize dari penerbit Bentang dan Neso Indonesia mengakhiri acara malam itu. (we)
Hidup dan tinggal lama di negara kincir angin memang banyak memberikan inspirasi bagi 4 orang alumni Belanda untuk meluapkan ide-idenya dalam bentuk tulisan.
Menarik untuk menyelami kehidupan mahasiswa Indonesia ala “Belanda” yang dituangkan dalam bentuk novel setebal 477 halaman. Menampilkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri sebagai tokoh dibalik buku ini. Sebuah karya cipta luar biasa yang ditelurkan oleh mereka yang terkenang akan sudut-sudut Belanda.
Berikut sinopsisnya:
Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?
Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di tanah kompeni demi meraih gelar S2.
Mulai dari kurang tidur karena bergadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.
Selain menjalani kisah susah senangnya jadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan, berbagi survival tips hidup di Belanda, serta bergelut dalam upaya menjawab pertanyaan yang pasti sempat terlintas di benak semua mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri : Untuk apa pulang ke Indonesia?
Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!
Segera dapatkan, Negeri van Oranje, beredar 26 Maret 2009.
Selengkapnya bisa di klik disini