Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

Archive for 'Life'

img_1351Suara merdu soprano cilik itu terngiang-ngiang di telinga saya. Bak malaikat kecil, ia menyanyikan lagu “Pie Jesu” yang digubah oleh Andrew Lloyd Weber dengan sangat indahnya. Dia adalah Charlotte Church yang pada usia ke-12nya meluncurkan album lagu-lagu klasik pertamanya. Dialah yang pertama kali menginspirasi saya dalam hal memilih profesi saya kelak, yaitu menjadi penyanyi klasik/seriosa. Saat itu saya masih berumur 11 tahun, namun tekad hati untuk mewujudkan cita-cita saya sudah bulat. “Suatu hari, saya harus bisa seperti dia!”, tutur saya dalam hati. Semenjak itulah saya memutuskan untuk menekuni bidang tarik suara dengan lebih serius dan mantap. Dan….Voilà! Inilah saya sekarang, mahasiswi musik tahun ke-3 di !

Tak disangka-sangka, tekad bulat sedari kecil membawa saya sampai ke kota Utrecht, kota terbesar keempat di Belanda. Utrecht juga terkenal sebagai salah satu kota tertua di Belanda. Tak heran jika disini masih bisa ditemukan banyak peninggalan-peninggalan dari zaman Barok yang secara otomatis menjadikan Utrecht sebagai kota kebudayaan dan kesenian. Banyak sekali festival-festival musik, teater, dan tari yang berlangsung disini. Inilah salah satu alasan kenapa saya memilih untuk belajar di Utrecht. Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan musik dimana-mana, seperti kentang goreng yang bisa ditemukan dimana saja di Belanda. Terlebih lagi juga karena lingkungan belajarnya yang cukup internasional dan mendukung perkembangan jaringan antar musisi.

Ternyata untuk menjadi musisi profesional, tak hanya dibutuhkan talenta dan musikalitas semata, tetapi teknik juga merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan permusisian kita. Mengasah teknik merupakan bagian yang paling esensial di Konservatorium musik. “Teknik, teknik, teknik!”, itulah semboyan dari Cecillia Bartolli, salah satu mezzo soprano terkenal dunia dari Italia. Dan saya baru mengerti arti sebenarnya setelah benar-benar berkecimpung di dunia permusikan ini. Sebagai musisi profesional, kita dituntut untuk selalu melatih teknik secara rutin supaya otot-otot kita terbiasa dengan posisi-posisi tertentu, yang nantinya dapat memudahkan kita dalam mengungkapkan dan menyampaikan ide musikalitas kita kepada orang lain. Tak heran jika anak-anak konservatorium sehari-harinya selalu menghabiskan waktu untuk latihan dari pagi sampai malam hari. Jangka waktu latihannya bervariasi, tergantung instrumen apa yang menjadi spesialisasinya. Bagi para pianis, mereka disarankan untuk latihan paling tidak 5 sampai 6 jam sehari. Lain halnya dengan vokalis, kami tidak bisa latihan terlalu lama dikarenakan oleh kondisi pita suara kami yang sangat “fragile”. Tapi yang paling penting, harus selalu rutin latihan!

Disisi lain, musik tidak sebegitu rumitnya juga untuk diwujudkan. Musik merupakan bahasa yang paling universal kata banyak orang. Saya mengalami sendiri bagaimana musik bekerja dengan hebatnya untuk setiap orang. Tak perlu satu bahasa, satu kewarganegaraan, kita semua bisa membuat musik bersama. Saya disini mendapat pelajaran “Community Music”, yaitu bagaimana kita bisa membuat dan bermain musik bersama dengan orang lain yang levelnya belum tentu sama dengan kita. Contohnya anak-anak kecil.

Dengan beberapa teman internasional, saya pergi ke suatu sekolah dasar untuk mengajar musik disana sebagai tugas akhir tahun. Betapa kagetnya saya melihat keantusiasan anak-anak tersebut. Definisi belajar musik tidak hanya semata-mata belajar membaca not balok, kord, tangga nada, dll. Belajar musik bisa juga dengan sesuatu yang simpel, seperti clapping game dengan beat/tempo tertentu atau meminta mereka untuk memimpin orkestra perkusi yang memungkinkan mereka untuk membuat berbagai macam dinamik tampa harus pusing dengan untaian nada dan not. Tidak hanya soal bagaimana mengeluarkan suara yang merdu atau permainan melodi yang sempurna, tapi juga kesempatan dan kebebasan mereka untuk “making music”. Hanya dengan Bahasa Belanda yang tidak seberapa fasih, mereka ternyata bisa mengerti semua instruksi kami. Hanya dengan musik, semuanya mungkin!

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pegangan saya untuk selalu berada di jalur yang seimbang. Talenta dan musikalitas jelas diperlukan dalam hal ini, namun harus didukung juga dengan teknik bermain musik atau bernyanyi yang benar sebagai bekal ilmu menuju dunia musik profesional nantinya.

(Bernadeta Astari, Mahasiswi musik di Konservatorium Utrecht, Belanda)

Mencari akomodasi di Belanda sama rasanya seperti mencari calon pasangan hidup. Untuk jangka waktu yang panjang, kita akan menempati kamar tersebut yang melindungi dari kehujanan, kepanasan, kedinginan, angin dan salju. Kamar juga merupakan tempat kita menghabiskan sebagian besar waktu untuk tidur, belajar, mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, berganti pakaian dan bahkan memasak.

Pilihan akomodasi bisa menyesuaikan kebutuhan. Kalau yang senang tinggal bersama-sama bisa berbagi kamar. Sementara yang lebih senang kamar sendiri tentu saja tersedia. Termasuk tentu saja yang fasilitas kamar mandi dan dapur pribadi.

Kadang kita suka penasaran soal bagaimana kondisi akomodasi mahasiswa di luar negeri. Bagaimana bentuknya, seberapa luas, dan fasilitas apa saja yang terdapat didalamnya. Penasaran kan? Beberapa tulisan dan foto-foto dari mahasiswa dan alumni bisa dibaca dalam seri tulisan berikut:

Atiek Winarti, Groningen:

Kornoeljestraat 2 atau international students biasa nyebutnya Blue Building  (nama gak resmi hehe..) 9741 JB Groningen. Kalo yang kuliahnya Sains di UMCG atau Zernikke, bisa ditempuh dengan 10 menit bersepeda, atau kalo yang kuliahnya di Behavioral and Social science kayaq saya (di Grote Rozenstraat) juga hanya 10 menit bersepeda.
Kalo mau belajar ke University LIbrary (UB) sekitar 15 menit bersepeda. Ke Centrum ya..nggak nyampe 20 menitlah…Centrum kan dekat banget sama UB.

Yang menyenangkan adalah lokasinya dekat dengan supermarket kayaq Albert Heijn (AH) dan Aldi, trus meskipun arahnya berbeda juga gak kalah dekat dengan supermarket Jumbo, Lidl, toko Oriental yang jual bahan makanan Indonesia, toko daging halal Nazar…dll (hehe…dari tadi yg diceritain masalah supermarket melulu). Eiitt..jangan lupa isi perut juga mempengaruhi kemampuan berpikir…ya nggak mas..??

Blue Building berlantai 12, setiap lantai terdiri dari 2 koridor, kiri dan kanan. Setiap koridor terdiri dari 15 kamar. Di setiap koridor ada 3 kamar mandi dan 4 toilet.

Dapur ada di bagian depan setiap koridor, ada 2 kompor gas 4 tungku dan setiap orang disediakan lemari masing2 untuk meletakkan alat2 dapur. Common room juga ada buat nonton TV atau kalo ada yg mau makan sambil nonton TV. Oya, alat2 dapur dipinjamin oleh housing, yg terdiri satu paket berisi 2 panci, 3 piring dan 1 gelas, 1 piring dan 1 garpu (hehe rinci banget yak..?). Trus, di setiap kamar disediain tempat tidur, lemari, meja belajar plus lampu dan kursinya. Bed linen disediakan dengan membayar 17.5 euro, atau boleh juga pake punya sendiri kalo punya. Setiap koridor juga memiliki garasi masing2 jadi relatif aman untuk nyimpen sepeda.

Untuk urusan laundry, jangan kuatir, tersedia laundry room yang  berisi 10 mesin cuci dan 4 dryer. Tapi harus nyuci sendiri. Apa lagi ya?..mungkin itu aja….

Kesimpulannya sih, Kornoeljestraat 2 adalah lokasi yang ideal untuk belajar, karena tenang. Lingkungannya juga nyaman banget, pemandangannya indah ..apalagi kalau dapet di lantai atas bisa ngeliat sungai, mills, lapangan bola, dll wah..indah pokoknya. Sewanya satu bulan 295 euro, semuanya single room.ssa41090

koernoelje-gebouw-040

Picture Source: Courtesy Atiek Winarti

senoKali ini tim blog Indonesia berkesempatan mewawancarai salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda. Berikut ceritanya:

Widyoseno Estitoyo, lulusan SMA 6 Surabaya, masih tetap tak percaya bahwa akhirnya ia bisa menjejakkan kaki di Belanda. Informasi sekolah di Belanda diperolehnya dari Neso Surabaya pada tahun 2005. Pria kelahiran Makassar, 15 September 1987 ini, sekarang tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Mälardalen Högskola, Swedia.

Seno memilih jurusan International Business and Management Studies di Hanze University of Applied Sciences karena mata kuliah yang ditawarkan sesuai impiannya. Seno merasa beruntung bisa kuliah di tempat ini. Ia bisa merasakan suasana kelas yang sangat internasional dengan teman-teman yang berasal dari berbagai negara, seperti Jerman, Cina, Rusia dan juga Belanda. Meskipun jadwal kuliah sangat padat, Seno tetap bisa menikmati waktu senggangnya. Memilih berkuliah di University of Applied Science, mahasiswa dituntut siap dengan metode pengajaran yang menitikberatkan pada ilmu terapan atau praktek. Karena itulah, dia banyak melakukan observasi dan magang di beragam institusi di Belanda.

Salah satu mata kuliah di jurusan ini adalah persiapan masuk dunia kerja. Mahasiswa diajarkan bagaimana membuat cover letter, melihat kelebihan diri sendiri, tips dan trik mencari pekerjaan, termasuk bagaimana bila kita adalah pemilik modal yang ingin menjual perusahaan kita kepada para pencari kerja. Di kampus, ada fasilitas web berisi informasi perusahaan-perusahaan yang sedang mencari mahasiswa magang. Bagi yang berminat, bisa langsung menghubungi perusahaan yang bersangkutan. Ini merupakan sebuah proses belajar mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat mahasiswa. Umumnya, perusahaan di sana sangat terbuka bagi mahasiswa yang ingin mendalami ilmu praktis di tempat mereka.

Hal lain yang menarik adalah kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke universitas lain. Sejak Agustus 2008, Seno berada di Swedia dalam rangka program pertukaran pelajar di Mälardalen Högskola. Banyak manfaat yang didapatnya, antara lain: menambah wawasan, teman baru, meningkatkan kepercayaan diri, kesempatan belajar bahasa dan budaya baru, serta memahami perspektif berbeda dari yang sudah diperolehnya di Belanda. Bahkan, segera setelah menyelesaikan program pertukaran pelajar ini, sebuah perusahaan di Inggris telah menerimanya untuk melakukan program magang.

Ketika disinggung tentang tantangan menjadi mahasiswa asing di Belanda, mantan Wakil Ketua PPI Groningen ini mengungkapkan, “Awalnya saya ragu berbicara dalam Bahasa Inggris, namun lama-kelamaan, rasa percaya diri saya meningkat. Selain di dalam kelas, Bahasa Inggris juga bisa digunakan dalam keseharian. Ternyata, orang-orang Belanda sangat fasih!”. Sebagai mahasiswa, Seno juga mempelajari bahasa Belanda agar membantunya bersosialisasi dengan masyarakat setempat.

Tantangan yang tak kalah susahnya adalah beradaptasi dengan budaya Belanda. Sebuah pengalaman lucu yang tak mungkin terlupakan adalah ketika pertama kali kerja kelompok dengan beberapa teman internasional di universitas. Pernah suatu kali ketika berkumpul dengan teman untuk berbicara masalah waktu pertemuan, aku belum sempat memiliki agenda untuk menulis jadwal dan alih-alih menggunakan secarik kertas alakadarnya .Lalu, salah seorang kawan Belanda berceletuk ,” You’ve got a nice agenda!”. Sesaat setelah pertemuan usai, aku langsung membeli agenda untuk menulis jadwal sehari-hari. Akhirnya, mau-tak-mau aku berasimilasi dengan budaya Belanda yang terkenal segala sesuatu harus tertulis di agenda. Seperti saran seseorang, ” Ambil yang baik dari sebuah budaya dan buang yang buruk”

Hidup di Belanda sangat mudah untuk mahasiswa asing seperti Seno. Fasilitas publik yang nyaman, sistem transportasi yang terintegrasi dan tepat waktu, ditambah lagi banyaknya pilihan menyaksikan pertunjukan seni budaya, mulai dari musik, teater, film, dan sebagainya. Ingin menonton konser band-band terkenal? Disinilah tempatnya!

Kalau kamu adalah siswa internasional dan lulusan program studi yang terakreditasi di salah satu universitas di Belanda, kamu diperbolehkan tinggal selama setahun penuh setelah selesai studi untuk mencari kerja sesuai dengan kemampuan yang kamu miliki atau yang biasa dikenal dengan sebutan “knowledge migrant”, dan bukan sebagai pekerja kasar atau buruh (labor migrant).

Peraturan ini telah diberlakukan sejak Desember 2007. Sebelum ini kamu hanya diberikan kesempatan selama tiga bulan untuk mencari kerja. Upah kotor minimum yang ditentukan untuk ‘knowledge migrant’ pun telah diturunkan dari euro34,000 menjadi euro25,000 per tahun.

Apa Saya harus memberitahukan IND (Imigrasi) bahwa Saya sedang mencari kerja?

Kalau kamu memiliki ijin tinggal untuk studi, kamu bisa tetap tinggal di Belanda selama setahun setelah selesai studi. Namun demikian kamu harus meminta IND untuk merubah tujuan ijin tinggal kamu menjadi ijin mencari kerja setelah studi atau dalam bahasa Belanda dinamakan “verblijt gedurende zoekjaar afgestudeerde”. Untuk ini kamu bisa mengisi formulir yang tersedid di website IND www.ind.nl . Setelah itu hubungi kantor IND di kota kamu. Pastikan kamu membuat janji untuk bertemu terlebih dahulu. Biaya pengurusan biasanya sebesar euro331. Apabila dalam perpanjangan waktu tinggal kamu berhasil memperoleh kerja sebagai knowledge migrant, maka kamu harus memberitahukan kepada IND mengenai hal ini, dan perusahaan tempat kamu bekerja nantinya membutuhkan surat perjanjian untuk kamu dengan IND.

Ijin kerja (TWV) tidak dibutuhkan

Dalam waktu setahun saat kamu sedang mencari kerja sebagai knowledge migrant, kamu diperbolehkan untuk bekerja tetapi untuk jenis pekerjaan yang tidak membutuhkan ijin kerja. Kondisi ini memungkinkan kamu dapat mengumpulkan uang selama periode ini untuk membiayai hidup kamu sehari-hari. Selama masa ini kamu tidak diperbolehkan untuk meminta fasilitas sosial negara.

Asuransi kesehatan

Selama kamu belum mendapatkan pekerajaan sebagai knowledge migrant, kami dibebaskan dari keharusan memiliki asuransi kesehatan dasar public (basizverzkering). Asuransi kesehatan swasta sudah cukup bagi kamu. Namun apabila kamu telah memiliki pekerjaan maka kamu harus mengurus basisverzkering.