Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.
The first conversation I had with Mrs. Gretchen van der Spek, then the Admission Manager of TiasNimbas Master programme, was about my vision for myself in the next 5 years after joining TiasNimbas. I told her that by that time I would be sitting in a plane on its way to China, a final leg of a road show with my company Board of Directors to settle an acquisition transaction; an acquisition which will increase the diversity and market of my company in Asia region.
I joined TiasNimbas because I would like to develop myself further, and I feel attached to the value the school holds, “Never Stop Asking”, being ambitious or excellent must start with questions. TiasNimbas taught me to always develop new solutions to new challenges; one solution doesn’t fit for all.
Sitting in a room with dozens of highly qualified people, who are eager to learn more, to know more, and to share knowledge between one and another; my fellow classmates in TiasNimbas were fun, outgoing, and dedicated people. They came to TiasNimbas filled with high expectations, and the school did meet, to a great deal, our expectations. The Professors were highly qualified, welcomed for discussions, and were willing to help us to improve.
Having spent a study year in TiasNimbas has improved me considerably, both individually and professionally. I developed certain skills and gained important knowledge, to be able to enter the professional business world in the high level.
I would like to invite you to be ambitious, to fill yourselves with the hunger to know more, to develop yourselves further, by joining TiasNimbas. It’s more than a school, than a campus; it’s the mindset and the mentality to always pursuing excellence. Welcome to the family, welcome to TiasNimbas Business School.
Andrea Guna (Indonesia)
Master in Marketing Management 2008-2009
Current Job: Investment Analyst, PT. Angkasa
We would like to inform you about Erasmus Mundus programme in Environmental Pathways for Sustainable Energy Systems (SELECT). This programme offers advanced education in the field of sustainable energy systems for the future. A number of scholarships are still available for this programme if interested students apply soon!
SELECT aims at delivering education for high competency and quality engineering skills in the field, including industrial interaction throughout the programme. Students graduating from the SELECT programme will have gained experience in the following topics:
The SELECT Master’s programme is a cooperation between the Royal Institute of Technology in Sweden (KTH), Technical University of Turin (PoliTo), Eindhoven University of Technology in the Netherlands (TUE), Technical University of Catalonia in Spain (UPC) and Helsinki University of Technology in Finland (TKK). It is a two-year Master’s programme including compulsory mobility for the students. Students from all over the world are welcome to apply.
For more information, please visit: http://www.kth.se/studies/master/em/select?l=en_UK.
If a student is interested in this programme, they should contact the coordinator of this programme (mundusadmission@kth.se) with a cc to InnoEnergy@tue.nl.
Laporan Wartawan Persda Yon Daryono dari Belanda
DELFT, KOMPAS.com — Kemampuan mahasiswa Indonesia di luar negeri ternyata cukup membanggakan nama Tanah Air. Dwi Hartanto, mahasiswa master di Universitas Teknologi Delft (TU Delft), Belanda, rencananya akan meluncurkan nanosatelit yang dinamakan Delfi-n3Xt pada pertengahan tahun 2010.
Sebelumnya, nanosatelit Delfi-C3 juga berhasil diluncurkan pada tahun 2008. Nanosatelit ini diklaim sebagai satelit pertama buatan mahasiswa di Belanda yang berhasil mengorbit bumi.
Rahmadi, Wakil Sekjen PPI Belanda, menyampaikan informasi tersebut kepada Persda network melalui surat elektronik seusai Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) yang rutin diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda, pekan lalu. “Dwi memaparkan riset pembuatan nanosatelit, mulai dari desain, fitur-fitur yang disyaratkan, serta misi peluncurannya,” ujar Rahmadi.
Menurutnya, keberhasilan salah satu mahasiswa asal Indonesia seperti Dwi patut diapresisasi. Pasalnya, dunia riset memang semestinya terbangun oleh tiga pilar besar, yaitu institusi pendidikan, pemerintah, dan industri.
Pada kesempatan itu pula, kolega Dwi, Aryo Primagati, yang saat ini bekerja sebagai insinyur telekomunikasi pada ISIS (Innovative Solutions In Space), sebuah perusahaan kecil yang didirikan alumni TU Delft yang pernah terlibat pada proyek nanosatelit Delfi-C3, mengatakan bahwa riset pembuatan nanosatelit sangat cocok dijadikan proyek penelitian dalam skala universitas. Selain desain yang lebih sederhana pada ukuran yang lebih kecil, dana yang dibutuhkan juga jauh lebih kecil dibandingkan satelit konvensional.
Sekadar perbandingan, Aryo mengatakan bahwa untuk membangun dan meluncurkan sebuah satelit normal diperlukan biaya jutaan euro (puluhan hingga ratusan miliar rupiah) dengan waktu pengembangan 5-10 tahun. Adapun untuk nanosatelit, seperti Delfi C3 atau Delfi-n3Xt, hanya diperlukan waktu satu sampai dua tahun pengembangan dengan biaya sekitar 100 sampai 200.000 euro (sekitar Rp 1,5 sampai Rp 3 miliar).
Pada akhir sesi presentasi KOPI Delft kali ini, Dedy Wicaksono, peneliti pasca-doktoral di TU Delft, memaparkan visi dan ambisi mereka bersama untuk menggagas sebuah proyek nanosatelit untuk mahasiswa Indonesia yang diberi nama INSPIRE (Indonesian Nano-Satellite Platform Initiative for Research and Education).
Mengingat, sebenarnya Indonesia telah merintis dunia riset antariksa sejak dekade 1960-an. Ide yang dibawa oleh Dedy bersama koleganya adalah membuat suatu konsorsium yang terdiri dari berbagai universitas di Indonesia, lembaga-lembaga penelitian pemerintah, dan tentunya rekanan dari dunia industri sebagai sponsor pendanaan.
Senada dengan Dedy, Aryo pun menilai misi peluncuran INSPIRE 1 hendaknya tidak terlalu mensyaratkan misi yang terlampau sulit. Pada kenyataannya, selain sebagai satelit komunikasi radio amatir, misi Delfi-C3 yang utama adalah sebagai technology demonstration and development. Mengenai masalah pendanaan, kiranya perlu dicari solusi yang terbaik. Salah satu yang sudah direncanakan adalah mengajukan proposal proyek INSPIRE ke berbagai pihak terkait di Tanah Air.
Acara Kolokium PPI Delft atau sering disingkat KOPI Delft ini adalah acara rutin dwi mingguan yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda. (yondaryono, persdanetwork)
Source: http://sains.kompas.com/read/2009/06/18/10311048/mahasiswa.ri.luncurkan.satelit.di.belanda.2010
SEPERTI persiapan untuk melanjutkan studi ke kota lain di Indonesia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti pilihan sekolah, akomodasi, dan persiapan finansial. Begitu pula persiapan untuk studi di Belanda, ketiga hal itu merupakan faktor utama.
TULISAN ini merupakan sharing pengalaman selama menjalani proses panjang studi di Belanda, termasuk peluang untuk bekerja.
Persiapan studi
Berkembangnya teknologi informasi memudahkan pencarian informasi dan data tentang sekolah-sekolah di Belanda. Semua institusi pendidikan di Belanda umumnya dilengkapi website yang memberi informasi tentang program, cara mendaftar, biaya, dan formulir pendaftaran. Berbagai informasi itu umumnya menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar. Namun, bagi lembaga yang menawarkan program internasional, semua informasi umumnya disajikan dalam bahasa Inggris.
Di Indonesia, Netherland Education Support Office(NESO), institusi yang siap membantu memberi informasi tentang kuliah di Belanda, ada di Jakarta dan Surabaya. Namun, untuk menghindari salah tafsir dan ekspektasi, peminat disarankan berdiskusi dengan alumni dari lembaga pendidikan yang dituju.
Awal tahun ajaran di Belanda adalah September, dan informasi program pendidikan bisa diperoleh sejak Oktober atau November tahun sebelumnya sehingga ada banyak waktu untuk menyiapkan dokumen pendaftaran dan kelengkapan lainnya. Tidak kalah penting, pertimbangan finansial menjadi salah satu faktor penentu pemilihan sekolah
Persiapan akomodasi yang matang merupakan hal yang amat krusial mengingat Belanda merupakan salah satu negara terpadat di Eropa dengan angka kebutuhan rumah tinggal yang tinggi. Tidak semua institusi pendidikan menyediakan tempat tinggal bagi siswanya. Namun, bagi siswa yang mengikuti program internasional, beberapa institusi pendidikan menyediakan akomodasi dengan fasilitas dan harga sewa amat beragam, tidak dapat disamakan untuk setiap kota. Karena itu, amat penting mempelajari ketersediaan akomodasi di kota tujuan, termasuk harga sewa. Umumnya, harga sewa kamar di daerah Randstad (Amsterdam, Rotterdam, Utrecht, Den Haag dan Delft) lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Belanda.
Namun, tidak tertutup kemungkinan untuk mencoba tinggal bersama siswa-siswa Belanda lainnya, yang umumnya berupa satu rumah ditempati beberapa siswa, sehingga harganya cenderung lebih murah. Para siswa ini biasanya memasang pengumuman instemming, mencari penghuni baru guna mengisi kamar kosong. Kemudian, mereka akan mengundang untuk “wawancara” dengan seluruh penghuni lama. Ini dimaksudkan untuk menentukan apakah calon penghuni cocok atau tidak sebagai teman serumah mereka. Hal ini bisa menjadi pengalaman menarik bagi siswa internasional sekaligus kesempatan berhemat, belajar kultur dan bahasa.
Setelah memilih sekolah, menyiapkan kebutuhan finansial, dan kepastian tempat tinggal, hal terpenting lainnya adalah mempersiapkan dokumen untuk visa masuk Belanda (tepatnya visa masuk negara-negara Schengen) dan dokumen lain guna permohonan izin tinggal. Akhir-akhir ini, setelah kasus 11 September dan isu keamanan internasional, proses pencarian visa menjadi lebih rumit dan memakan waktu panjang, yang akhirnya menyebabkan beberapa siswa datang terlambat setelah tahun ajaran berlangsung. Biaya permohonan izin tinggal pun tidak kecil. Selama dua tahun ini biaya izin tinggal telah bertambah dari 285 euro menjadi sekitar 430 euro dan harus diperpanjang setiap tahun dengan biaya sama.
Meski proses pengurusan visa memerlukan waktu panjang, selama dokumen yang diminta lengkap, dapat dipastikan proses akan berjalan lancar. Untuk itu, disarankan agar menyiapkan waktu cukup panjang agar tidak terburu-buru. Informasi lengkap soal permohonan visa atau MVV bisa dilihat pada website Kedutaan Besar Belanda, http://www.netherlandsembassy.or.id/ .
Dinamika studi
Selama belajar dan tinggal di Belanda tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Namun, sebagai pelajar, isu utama umumnya selalu berkaitan dengan masalah finansial, terutama karena biaya hidup di Belanda-meski tidak bisa dikatakan amat mahal dibandingkan dengan negara Eropa lainnya (Inggris atau Perancis)-tidak murah bagi kebanyakan siswa dari Indonesia mengingat nilai tukar rupiah atas euro.
Pelajar dari Asia terkenal ulet untuk mencari tambahan dana selain tunjangan finansial dari Indonesia, baik itu beasiswa atau dari orangtua. Dengan dokumen izin tinggal pelajar, mereka diizinkan bekerja maksimum 10 jam seminggu, atau jika diakumulasikan dalam setahun menjadi 520 jam. Ditambah dengan kemampuan bahasa Belanda yang cukup memudahkan siswa untuk melamar pekerjaan. Mengingat keterbatasan waktu kerja yang diizinkan, umumnya pekerjaan paruh waktu, seperti di supermarket, cleaning service, atau loper koran, merupakan pekerjaan yang paling sering dicari pelajar Asia di Belanda. Selain itu, karena sedikitnya tenaga lokal yang bersedia mengerjakan pekerjaan yang memerlukan tenaga, maka bayaran per jam pun tergolong besar, sekitar 6-8 euro per jam (Rp 60.000-Rp 80.000 per jam).
Selain itu, tidak tertutup kemungkinan bagi mahasiswa Indonesia untuk bekerja sebagai stagiere atau internship di kantor yang berhubungan dengan studi yang dipilih. Dengan mengakumulasi waktu kerja menjadi 520 jam setahun, ada kesempatan untuk bekerja fulltime selama musim panas, yang bagi banyak kantor dinilai lebih efisien dibandingkan dengan kerja 10 jam (atau satu hari) seminggu. Selain itu, dengan bekerja fulltime, kesempatan untuk mempelajari kultur kerja, tanggung jawab, relasi, lingkungan, serta ritme kerja akan menjadi refleksi menarik mengingat kultur kerja Asia yang amat padat.
Namun, sebagai “orang asing” di negara ini, meski bekerja paruh waktu, mahasiswa Indonesia diwajibkan memiliki dokumen izin kerja, yang umumnya disiapkan pemberi kerja. Proses ini tidak cepat, membutuhkan waktu sekurangnya satu bulan. Karena itu, hal ini sebaiknya dipahami kedua belah pihak, pelamar dan pemberi kerja, sebab sering kali pemberi kerja tidak menyadari kesulitan ini. Memang, tidak sedikit pemberi kerja individual (pemilik rumah tinggal atau restoran kecil) menyewa pekerja secara “ilegal”. Namun, hal ini amat tidak disarankan mengingat akhir-akhir ini pengawasan pihak pajak dan keimigrasian amat ketat. Bila ketahuan, berat konsekuensinya, baik bagi pekerja maupun pemberi kerja. Dan, pasti akan berdampak buruk pada proses studi.
Berada di negara orang tidak selalu segemerlap yang dilihat orang. Bagaimana pun, perjuangan sebagai “orang asing”- bahkan dinas keimigrasian disebut sebagai Alien Police-menuntut keuletan dan kemampuan untuk bercampur dengan kultur dan legasi mereka.
Yulianti Tanyadji Siswa Tingkat Akhir Master of Science in Urbanism, Delft University of Technology, Laboratory of Urban Transformation (Studio Globalization, Urban Forms and Governence)