Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

Archive for 'Study'

Hasil seleksi pemenang kompetisi Blog Studi di Belanda telah diumumkan akhir Mei lalu. Dua orang blogger dari masing-masing kategori berhasil meraih tiket mengikuti summer course dengan judul ”European Culture and Identities” yang diselenggarakan oleh Utrecht Summer School, di Belanda.

Kedua pemenang tersebut adalah Ratna Ariyanti (Bisnis Indonesia) – www.negeri-senja.com/bergerak menuju holland dan kategori non wartawan adalah Dian Inawati – alamanda.blogspot.com. Kedua-nya memperoleh angka tertinggi dari hasil penilaian yang dilakukan oleh para juri terdiri dari Wicaksono, Enda Nasution, dan Raditya Dika – radityadika.com yang telah bekerja ekstra untuk dapat melakukan penilaian terhadap total 316 posting.

Sementara itu, pemenang kedua dan ketiga dari kategori wartawan yang berhak atas hadiah notebook dan digital camera adalah: Juara ke-2, Suhartono (Jurnal Nasional) dalam tulisan yang berjudul Demi Nuffi van Holland dan Juara ke-3, Rizky Amelia (Koran Jakarta) dalam tulisan yang berjudul Sekampus dengan Ratu Belanda, Sebuah Pengalaman Mahasiswi Indonesia di Belanda.

Untuk kategori non wartawan adalah Juara ke-2, Hanny Kusumawati dalam tulisan yang berjudul Belajar Berbeda di Belanda dan Juara ke-3: Putri Trapsiloningrum dalam tulisan yang berjudul Jangan Studi di Belanda. Hadiah bagi pemenang ke-2 dan ke-3 yang berdomisili di luar Jakarta akan dikirim langsung ke alamat yang bersangkutan.

Kedua pemenang utama akan menceritakan pengalamannya selama mengikuti summer course dan berada di Belanda pada 6 – 17 Juli 2009. Nantikan tulisan-tulisan dan foto-foto menarik hasil karya pemenang utama di blog studidibelanda.com dan juga di blog mereka masing-masing. Selamat kepada para pemenang!

www.nesoindonesia.or.id

Ingin lebih jelas dalam membayangkan Studi di Belanda? Semoga video yang di upload di youtube ini bisa memberikan gambaran tentang bagaimana  menjadi mahasiswa di Belanda.

img_1351Suara merdu soprano cilik itu terngiang-ngiang di telinga saya. Bak malaikat kecil, ia menyanyikan lagu “Pie Jesu” yang digubah oleh Andrew Lloyd Weber dengan sangat indahnya. Dia adalah Charlotte Church yang pada usia ke-12nya meluncurkan album lagu-lagu klasik pertamanya. Dialah yang pertama kali menginspirasi saya dalam hal memilih profesi saya kelak, yaitu menjadi penyanyi klasik/seriosa. Saat itu saya masih berumur 11 tahun, namun tekad hati untuk mewujudkan cita-cita saya sudah bulat. “Suatu hari, saya harus bisa seperti dia!”, tutur saya dalam hati. Semenjak itulah saya memutuskan untuk menekuni bidang tarik suara dengan lebih serius dan mantap. Dan….Voilà! Inilah saya sekarang, mahasiswi musik tahun ke-3 di !

Tak disangka-sangka, tekad bulat sedari kecil membawa saya sampai ke kota Utrecht, kota terbesar keempat di Belanda. Utrecht juga terkenal sebagai salah satu kota tertua di Belanda. Tak heran jika disini masih bisa ditemukan banyak peninggalan-peninggalan dari zaman Barok yang secara otomatis menjadikan Utrecht sebagai kota kebudayaan dan kesenian. Banyak sekali festival-festival musik, teater, dan tari yang berlangsung disini. Inilah salah satu alasan kenapa saya memilih untuk belajar di Utrecht. Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan musik dimana-mana, seperti kentang goreng yang bisa ditemukan dimana saja di Belanda. Terlebih lagi juga karena lingkungan belajarnya yang cukup internasional dan mendukung perkembangan jaringan antar musisi.

Ternyata untuk menjadi musisi profesional, tak hanya dibutuhkan talenta dan musikalitas semata, tetapi teknik juga merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan permusisian kita. Mengasah teknik merupakan bagian yang paling esensial di Konservatorium musik. “Teknik, teknik, teknik!”, itulah semboyan dari Cecillia Bartolli, salah satu mezzo soprano terkenal dunia dari Italia. Dan saya baru mengerti arti sebenarnya setelah benar-benar berkecimpung di dunia permusikan ini. Sebagai musisi profesional, kita dituntut untuk selalu melatih teknik secara rutin supaya otot-otot kita terbiasa dengan posisi-posisi tertentu, yang nantinya dapat memudahkan kita dalam mengungkapkan dan menyampaikan ide musikalitas kita kepada orang lain. Tak heran jika anak-anak konservatorium sehari-harinya selalu menghabiskan waktu untuk latihan dari pagi sampai malam hari. Jangka waktu latihannya bervariasi, tergantung instrumen apa yang menjadi spesialisasinya. Bagi para pianis, mereka disarankan untuk latihan paling tidak 5 sampai 6 jam sehari. Lain halnya dengan vokalis, kami tidak bisa latihan terlalu lama dikarenakan oleh kondisi pita suara kami yang sangat “fragile”. Tapi yang paling penting, harus selalu rutin latihan!

Disisi lain, musik tidak sebegitu rumitnya juga untuk diwujudkan. Musik merupakan bahasa yang paling universal kata banyak orang. Saya mengalami sendiri bagaimana musik bekerja dengan hebatnya untuk setiap orang. Tak perlu satu bahasa, satu kewarganegaraan, kita semua bisa membuat musik bersama. Saya disini mendapat pelajaran “Community Music”, yaitu bagaimana kita bisa membuat dan bermain musik bersama dengan orang lain yang levelnya belum tentu sama dengan kita. Contohnya anak-anak kecil.

Dengan beberapa teman internasional, saya pergi ke suatu sekolah dasar untuk mengajar musik disana sebagai tugas akhir tahun. Betapa kagetnya saya melihat keantusiasan anak-anak tersebut. Definisi belajar musik tidak hanya semata-mata belajar membaca not balok, kord, tangga nada, dll. Belajar musik bisa juga dengan sesuatu yang simpel, seperti clapping game dengan beat/tempo tertentu atau meminta mereka untuk memimpin orkestra perkusi yang memungkinkan mereka untuk membuat berbagai macam dinamik tampa harus pusing dengan untaian nada dan not. Tidak hanya soal bagaimana mengeluarkan suara yang merdu atau permainan melodi yang sempurna, tapi juga kesempatan dan kebebasan mereka untuk “making music”. Hanya dengan Bahasa Belanda yang tidak seberapa fasih, mereka ternyata bisa mengerti semua instruksi kami. Hanya dengan musik, semuanya mungkin!

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pegangan saya untuk selalu berada di jalur yang seimbang. Talenta dan musikalitas jelas diperlukan dalam hal ini, namun harus didukung juga dengan teknik bermain musik atau bernyanyi yang benar sebagai bekal ilmu menuju dunia musik profesional nantinya.

(Bernadeta Astari, Mahasiswi musik di Konservatorium Utrecht, Belanda)

Blog Studi di Belanda mendapat kontribusi artikel dari salah seorang mahasiswa TU Delft Belanda, sebuah pemaparan yang menarik untuk yang tertarik mendalami bidang desain industri. Selamat Membaca!

===

Ketika saya memutuskan melanjutkan pendidikan di bidang Industrial Design di TU Delft, Belanda, banyak rekan saya yang  bertanya mengapa memilih Belanda dan bukan negara lain seperti Jerman misalnya, yang merupakan negara penghasil produk industri dari brand-brand terkemuka di dunia.  Perancis atau Italia yang katanya lebih identik dengan dunia artistik dan dunia glamour para designernya; atau Amerika yang konon tempat sekolah-sekolah industrial design ternama di dunia ?

Belanda memang cukup terkenal di bidang teknologi konstruksi, teknik sipil dan maritimnya, begitu pula di bidang seni rupa  Belanda memiliki nama-nama besar seperti Rembrandt; Vermeer; dan Vincent Van Gogh. Tapi tidak banyak orang yang mengetahui bagaimana sebenarnya kiprah Belanda di dunia Industrial Design

Tanpa banyak orang menyadari, sebenarnya para alumni Industrial Design Belanda dalam hal ini secara khusus TU Delft almamater saya, justru banyak sekali berpengaruh dan memegang peranan penting di industri-industri dan institusi-institusi design terkemuka di dunia…

Saya mulai dengan nama Harm Lagaay, seorang automotive designer kawakan yang merupakan alumni TU Delft. Desainer Belanda inilah yang merancang mobil-mobil Porsche 911; 924; Porsche Carrera Series yang legendaris itu. Kemudian antara tahun 1977-1985 beliau juga pernah menjabat sebagai Chief Design di Ford. Lagaay pulalah yang mendesign BMW Z1 pada era 90 an, sebelum beliau akhirnya kembali ke Porsche menjadi Chief Styling Design di sana hingga usia pensiunnya di tahun 2004.

Tidak banyak pula yang tahu bahwa di balik kebesaran nama BMW terdapat pula nama Adrian van Hooydonk lulusan Industrial Design TU Delft (1988), yang sejak 2004 lalu hingga kini beliau secara resmi menjabat sebagai Direktur Design di BMW Group, membawahi desainer-desainer pilihan BMW lainnya di seluruh dunia, Beliaulah yang memimpin tim desain yang merancang  mobil-mobil keluaran BMW seri 3, seri 6, seri 7, BMW Z4 , BMW Z9, M1, dan BMW X6, yang sudah barang tentu tidak asing bagi kita, terutama para penggemar dunia automotif

Mungkin anda pernah juga mendengar nama besar Pininfarina, sebuah car design firm ternama di Italia dan juga di dunia yang merancang mobil-mobil dari brand terkemuka semacam Ferrari, Maserati, Cadillac, Nash, Peugeot, Jaguar, Volvo, Alfa Romeo, MG, Cisitalia, dan Lancia.  Tapi anda mungkin tidak pernah mengetahui siapakah Design Director Pininfarina ? Adalah Lowie Vermeesch, pria Belgia yang merupakan alumni fakultas Industrial Design Engineering TU Delft (1992), yang secara resmi ditunjuk mengomandani Design Department Pininfarina sejak Agustus 2007 lalu membawahi desainer-desainer automotive ternama lain yang bernaung di bawah Pininfarina.

Masih ada nama lain seperti Laurens van den Acker, yang juga merupakan lulusan Fakultas Industrial Design TU Delft, yang kini menjabat sebagai Global Design Director Mazda. Membawahi desainer-desainer Mazda di Eropa; Amerika; dan juga Jepang.  Sebelumnya Acker pernah menjabat sebagai Chief Designer of Strategic Design di Ford dan mengepalai tim desainer yang merancang Ford Escape and Mercury Mariner.

Saya yakin tidak satupun dari anda yang tidak pernah menggunakan Microsoft Office; Windows XP; MSN; Internet Explorer; atau Windows Vista, bukan ? Namun saya yakin anda tidak tahu siapa perancang interface program-program Microsoft tersebut? Adalah nama besar Tjeerd Hoek alumni Fakultas Industrial Design TU Delft, beliaulah arsitek dan ujung tombak dari tim perancang interface dari semua program-program tersebut sewaktu beliau menjabat sebagai Director of User Experience Microsoft. Karya terakhir Tjeerd Hoek di Microsoft adalah interface Windows Vista sebelum akhirnya beliau memutuskan hengkang pindah sebagai Executive Creative Director di Frog Design. Bagi yang tidak tahu, Frog Design adalah design firm yang merancang brand produk Sony Trinitron dan Produk-produk Apple antara lain seri Macintosh yang legendaris itu. Karya terbarunya bersama Cees van Dok di Frog Design, yang juga merupakan alumni Industrial Design TU Delft, adalah interface Windows Media Player dan Yahoo Massenger versi 9 yang anda gunakan untuk Windows Vista (WPF-powered version of Yahoo)

Itu hanya sebagian dari nama-nama besar para alumni Industrial Design TU Delft yang dapat saya sebutkan disini, masih tidak terhitung desainer-desainer lain yang memegang posisi-posisi strategis di industri-industri multinasional, yang dapat menggambarkan bahwa tanpa disadari sebenarnya lulusan-lulusan industrial design Belanda sangat berpengaruh kuat di dunia design, dimana reputasinya tidak hanya diakui di Eropa tetapi sudah mencapai level global sejak dahulu.

Saya pernah suatu ketika bertanya pada rekan saya dari Jerman, mengapa dia memilih belajar industrial design di Belanda daripada di negaranya sendiri. Dia mengatakan selain reputasi alumninya yang luar biasa, sistem pendidikan industrial design di Belanda terutama di TU Delft memberikan pendekatan yang lebih menyeluruh pada tiap aspek perancangan produk seperti tercermin pada program spesialisasi yang ditawarkan.

Strategic Product Design mempelajari pendekatan perancangan produk yang lebih menitik beratkan pada konteks organisasi (manajemen inovasi), business development, dan market.

Design for Interaction mempelajari pendekatan perancangan produk yang menekankan pada interaksi antara produk dan manusia (user) dan experience, sementara Integrated Product Design lebih menekankan pada aspek teknologi, proses manufaktur, produksi, dan aspek-aspek perancangan produk terkait lainnya. Selain itu terdapat juga program sub spesialisasi lain semacam Automotive Design, Medical Equipment Design, Sustainability dan Design Research yang mewajibkan mahasiswanya mengambil beberapa mata kuliah khusus tambahan yang terkait dengan bidang keahlian tersebut.

Pendekatan pendidikan Industrial Design di TU Delft memang terutama lebih berorientasi pada aspek engineering nya, bukan art-design. Jika ingin memperdalam aspek konseptual, strategi perencanaan, dan inovasi teknologi dari sebuah desain, maka disini adalah tempat yang ideal. Namun jika lebih berminat untuk memperdalam pada sisi artistik dan filosofi dari desain, maka program-program yang ditawarkan oleh Desain2 Akademi atau Hogeschool lain yang ada, mungkin akan lebih sesuai…

Oleh : Stevie Heru Prabowo

Mahasiswa TU Delft, Belanda

squareHidup dan tinggal lama di negara kincir angin memang banyak memberikan inspirasi bagi 4 orang alumni Belanda untuk meluapkan ide-idenya dalam bentuk tulisan.

Menarik untuk menyelami kehidupan mahasiswa Indonesia ala “Belanda” yang dituangkan dalam bentuk novel setebal 477 halaman. Menampilkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri sebagai tokoh dibalik buku ini. Sebuah karya cipta luar biasa yang ditelurkan oleh mereka yang terkenang akan sudut-sudut Belanda.

Berikut sinopsisnya:

Kata siapa kuliah di luar negeri itu gampang?

Perkenalkan Lintang, Banjar, Wicak, Daus, dan Geri. Lima anak manusia terlahir di Indonesia, terdampar bersekolah di tanah kompeni demi meraih gelar S2.

Mulai dari kurang tidur karena bergadang demi paper, kurang tenaga karena mesti genjot sepeda 5 km bolak balik ke kampus setiap hari, sampai kurang duit hingga terpaksa mencari pekerjaan paruh waktu; semua pernah mereka alami.

Selain menjalani kisah susah senangnya jadi mahasiswa rantau di Eropa, mereka juga menjalin persahabatan, berbagi survival tips hidup di Belanda, serta bergelut dalam upaya menjawab pertanyaan yang pasti sempat terlintas di benak semua mahasiswa yang pernah bersekolah di luar negeri : Untuk apa pulang ke Indonesia?

Dalam perjalanan menemukan jawaban masing-masing, takdir menuntut mereka memiliki keteguhan hati untuk melampaui rintangan, menggapai impian, serta melakukan hal yang paling sulit: the courage to love!

Segera dapatkan, Negeri van Oranje, beredar 26 Maret 2009.

Selengkapnya bisa di klik disini