Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

SEPERTI persiapan untuk melanjutkan studi ke kota lain di Indonesia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, seperti pilihan sekolah, akomodasi, dan persiapan finansial. Begitu pula persiapan untuk studi di Belanda, ketiga hal itu merupakan faktor utama.

TULISAN ini merupakan sharing pengalaman selama menjalani proses panjang studi di Belanda, termasuk peluang untuk bekerja.

Persiapan studi

Berkembangnya teknologi informasi memudahkan pencarian informasi dan data tentang sekolah-sekolah di Belanda. Semua institusi pendidikan di Belanda umumnya dilengkapi website yang memberi informasi tentang program, cara mendaftar, biaya, dan formulir pendaftaran. Berbagai informasi itu umumnya menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar. Namun, bagi lembaga yang menawarkan program internasional, semua informasi umumnya disajikan dalam bahasa Inggris.

Di Indonesia, Netherland Education Support Office(NESO), institusi yang siap membantu memberi informasi tentang kuliah di Belanda, ada di Jakarta dan Surabaya. Namun, untuk menghindari salah tafsir dan ekspektasi, peminat disarankan berdiskusi dengan alumni dari lembaga pendidikan yang dituju.

Awal tahun ajaran di Belanda adalah September, dan informasi program pendidikan bisa diperoleh sejak Oktober atau November tahun sebelumnya sehingga ada banyak waktu untuk menyiapkan dokumen pendaftaran dan kelengkapan lainnya. Tidak kalah penting, pertimbangan finansial menjadi salah satu faktor penentu pemilihan sekolah

Persiapan akomodasi yang matang merupakan hal yang amat krusial mengingat Belanda merupakan salah satu negara terpadat di Eropa dengan angka kebutuhan rumah tinggal yang tinggi. Tidak semua institusi pendidikan menyediakan tempat tinggal bagi siswanya. Namun, bagi siswa yang mengikuti program internasional, beberapa institusi pendidikan menyediakan akomodasi dengan fasilitas dan harga sewa amat beragam, tidak dapat disamakan untuk setiap kota. Karena itu, amat penting mempelajari ketersediaan akomodasi di kota tujuan, termasuk harga sewa. Umumnya, harga sewa kamar di daerah Randstad (Amsterdam, Rotterdam, Utrecht, Den Haag dan Delft) lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Belanda.

Namun, tidak tertutup kemungkinan untuk mencoba tinggal bersama siswa-siswa Belanda lainnya, yang umumnya berupa satu rumah ditempati beberapa siswa, sehingga harganya cenderung lebih murah. Para siswa ini biasanya memasang pengumuman instemming, mencari penghuni baru guna mengisi kamar kosong. Kemudian, mereka akan mengundang untuk “wawancara” dengan seluruh penghuni lama. Ini dimaksudkan untuk menentukan apakah calon penghuni cocok atau tidak sebagai teman serumah mereka. Hal ini bisa menjadi pengalaman menarik bagi siswa internasional sekaligus kesempatan berhemat, belajar kultur dan bahasa.

Setelah memilih sekolah, menyiapkan kebutuhan finansial, dan kepastian tempat tinggal, hal terpenting lainnya adalah mempersiapkan dokumen untuk visa masuk Belanda (tepatnya visa masuk negara-negara Schengen) dan dokumen lain guna permohonan izin tinggal. Akhir-akhir ini, setelah kasus 11 September dan isu keamanan internasional, proses pencarian visa menjadi lebih rumit dan memakan waktu panjang, yang akhirnya menyebabkan beberapa siswa datang terlambat setelah tahun ajaran berlangsung. Biaya permohonan izin tinggal pun tidak kecil. Selama dua tahun ini biaya izin tinggal telah bertambah dari 285 euro menjadi sekitar 430 euro dan harus diperpanjang setiap tahun dengan biaya sama.

Meski proses pengurusan visa memerlukan waktu panjang, selama dokumen yang diminta lengkap, dapat dipastikan proses akan berjalan lancar. Untuk itu, disarankan agar menyiapkan waktu cukup panjang agar tidak terburu-buru. Informasi lengkap soal permohonan visa atau MVV bisa dilihat pada website Kedutaan Besar Belanda, http://www.netherlandsembassy.or.id/ .

Dinamika studi

Selama belajar dan tinggal di Belanda tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Namun, sebagai pelajar, isu utama umumnya selalu berkaitan dengan masalah finansial, terutama karena biaya hidup di Belanda-meski tidak bisa dikatakan amat mahal dibandingkan dengan negara Eropa lainnya (Inggris atau Perancis)-tidak murah bagi kebanyakan siswa dari Indonesia mengingat nilai tukar rupiah atas euro.

Pelajar dari Asia terkenal ulet untuk mencari tambahan dana selain tunjangan finansial dari Indonesia, baik itu beasiswa atau dari orangtua. Dengan dokumen izin tinggal pelajar, mereka diizinkan bekerja maksimum 10 jam seminggu, atau jika diakumulasikan dalam setahun menjadi 520 jam. Ditambah dengan kemampuan bahasa Belanda yang cukup memudahkan siswa untuk melamar pekerjaan. Mengingat keterbatasan waktu kerja yang diizinkan, umumnya pekerjaan paruh waktu, seperti di supermarket, cleaning service, atau loper koran, merupakan pekerjaan yang paling sering dicari pelajar Asia di Belanda. Selain itu, karena sedikitnya tenaga lokal yang bersedia mengerjakan pekerjaan yang memerlukan tenaga, maka bayaran per jam pun tergolong besar, sekitar 6-8 euro per jam (Rp 60.000-Rp 80.000 per jam).

Selain itu, tidak tertutup kemungkinan bagi mahasiswa Indonesia untuk bekerja sebagai stagiere atau internship di kantor yang berhubungan dengan studi yang dipilih. Dengan mengakumulasi waktu kerja menjadi 520 jam setahun, ada kesempatan untuk bekerja fulltime selama musim panas, yang bagi banyak kantor dinilai lebih efisien dibandingkan dengan kerja 10 jam (atau satu hari) seminggu. Selain itu, dengan bekerja fulltime, kesempatan untuk mempelajari kultur kerja, tanggung jawab, relasi, lingkungan, serta ritme kerja akan menjadi refleksi menarik mengingat kultur kerja Asia yang amat padat.

Namun, sebagai “orang asing” di negara ini, meski bekerja paruh waktu, mahasiswa Indonesia diwajibkan memiliki dokumen izin kerja, yang umumnya disiapkan pemberi kerja. Proses ini tidak cepat, membutuhkan waktu sekurangnya satu bulan. Karena itu, hal ini sebaiknya dipahami kedua belah pihak, pelamar dan pemberi kerja, sebab sering kali pemberi kerja tidak menyadari kesulitan ini. Memang, tidak sedikit pemberi kerja individual (pemilik rumah tinggal atau restoran kecil) menyewa pekerja secara “ilegal”. Namun, hal ini amat tidak disarankan mengingat akhir-akhir ini pengawasan pihak pajak dan keimigrasian amat ketat. Bila ketahuan, berat konsekuensinya, baik bagi pekerja maupun pemberi kerja. Dan, pasti akan berdampak buruk pada proses studi.

Berada di negara orang tidak selalu segemerlap yang dilihat orang. Bagaimana pun, perjuangan sebagai “orang asing”- bahkan dinas keimigrasian disebut sebagai Alien Police-menuntut keuletan dan kemampuan untuk bercampur dengan kultur dan legasi mereka.

Yulianti Tanyadji Siswa Tingkat Akhir Master of Science in Urbanism, Delft University of Technology, Laboratory of Urban Transformation (Studio Globalization, Urban Forms and Governence)

Persepsi umum masyarakat tentang biaya kuliah di luar negeri adalah mahal. Untuk bisa memenuhi keinginannya, tak jarang banyak orang jatuh bangun berusaha untuk bisa memperoleh beasiswa. Akan tetapi, tidak semua orang punya kesempatan yang sama memperolehnya. Tapi tahukah kita bahwa banyak cara untuk bisa hidup hemat sehingga kita bisa tetap bertahan dengan biaya yang terjangkau di luar negeri?

Biasanya, perhitungan biaya hidup tergantung dari daya hidup dari mahasiswa yang bersangkutan. 2 komponen utama adalah biaya kuliah (tuition fee) dan biaya hidup (living cost).

Tuition Fee

Biaya kuliah di Belanda memiliki kisaran yang sangat beragam. Untuk tingkat s1 atau Bachelor, besaran biaya kuliah antara 3,500 - 7,000 euro pertahun (sekitar 50 - 101 juta rupiah). Sedangkan untuk program s2 atau master, biaya yang diperlukan sekitar 4,000 - 15,000 euro per tahunnya. Biaya ini sudah nett sehingga tidak akan ada lagi pungutan biaya gedung, biaya SKS atau biaya laboratorium.

Living Cost

Biaya hidup (living cost) di Belanda tergolong moderat dibandingkan wilayah eropa yang lain. Kemudahan mencari bahan makanan Indonesia menjadi sebuah keuntungan yang tidak didapatkan di negara Eropa lainnya. Sebagai contoh, mahasiswa Indonesia di Jerman kalau mencari bumbu nasi goreng ataupun sambel botol, umumnya terpaksa menyeberang ke Belanda untuk bisa bisa memperolehnya. Komponen biaya hidup di Belanda sebagai mahasiswa dapat dijabarkan sebagai berikut:

- Akomodasi, berupa kamar standard yang umumnya terdiri dari tempat tidur single, meja belajar dan lemari cabinet adalah komponen yang terbesar dari total biaya hidup di luar negeri. Alokasi biaya akomodasi bisa mencapai setengah dari total biaya hidup. Harga rata-rata akomodasi di Belanda adalah sekitar 4000-4800 euro pertahunnya, atau sekitar

- Meals, komponen biaya lainnya yang juga sangat penting adalah urusan perut. Perhitungan biayanya berdasarkan survey adalah sekitar 4,000 euro per tahun. Cara menghemat untuk urusan perut ini adalah, dengan memasak sendiri. Cara ini terbukti ampuh untuk mengurangi biaya makan perbulan hingga 30%. Lumayan kan?

- Buku, diperlukan sebagai componen vital yang mendukung mahasiswa dalam menempuh perkuliahan. Buku sebagai sumber informasi yang diakui secara akademis untuk mendukung kegiatan belajar mengajar di kampus. Berdasarkan survey yang pernah Neso Indonesia lakukan, komponen biaya untuk buku pertahunnya mencapai 600 euro atau 50 euro perbulannya. Namun, banyak mahasiswa yang dapat melakukan penghematan dengan membeli buku-buku second-hand, dari para senior maupun meminjam melalui fasilitas perpustakaan di kampus. 

- Insurance, mendapatkan perlindungan di luar negeri memang mutlak. Apalagi, kalau kita terpaksa harus menggunakan fasilitas kesehatan apabila terserang penyakit. Perlu digaris bawahi biaya kesehatan di Belanda sangatlah mahal. Untuk itu keikutsertaan salam program asuransi kesehatan adalah sebuah keharusan. Hal ini juga tertuang dalam ketentuan ketika kita akan mendaftar visa, dokumen keikutsertaan asuransi juga menjadi kompenen yang wajib ada. Biayanya? Sekitar 500 euro untuk satu tahun.

- Transportasi, ada keuntungan ketika memilih Belanda sebagai tujuan melanjutkan pendidikan, karena biaya transportasi yang relatif terjangkau. Mau tau kuncinya? Sepeda! Adalah alat transportasi utama di Belanda. Harga sepeda second-hand berkisar antara 45-140 euro. Dengan menggunakan sepeda sebagai alat transportasi, biaya yang dikeluarkan dari rumah ke kampus tentu saja gratis, dan tentu saja sehat!

Sebetulnya banyak cara untuk menghemat biaya yang dikeluarkan agar bisa mewujudkan impian Studi di Belanda. Sekali lagi, semuanya tergantung kepada gaya hidup kita. Dengan mengetahui gambaran biaya yang dikeluarkan, kita bisa melakukan perbandingan manakah negara yang paling cocok dipilih untuk studi di luar negeri. (ah)

By: Ariono Hadipuro, Nuffic Neso Indonesia

Dear All,

Ada informasi yang kami terima dari Universitas Tias Nimbas di Belanda. Tertarik ambil MBA? Baca informasi berikut ini:

Salam,

Neso Indonesia

TiasNimbas MBA early bird reduction:

Candidates who apply before Dec. 31, 2009 can enjoy a reduction of EUR 2,000 on the tuition fee.

Why TiasNimbas MBA?

TiasNimbas Advantage

The Programme

  • You will be part of an accredited top ranking MBA programme (Top 10 Value for Money Financial Times - 2009).
  • You can get a dual degree (both a Dutch and a British degree).
  • You can finish your MBA in just one year (in comparison: the US/Canadian standard takes you 18 to 20 months).
  • You will be part of a highly international environment, both in our faculty and in our classrooms (No. 2 most international programme Financial Times - 2009).
  • You will join one of the most gender-balanced MBA programmes, which continues to boast almost 50 percent female participants in each incoming class.

The Experience

  • You will experience tantalizing didactic skills and absorb relevant knowledge from experts in their field.
  • You will not get a chance to sit back and observe because of the relatively small number of students in the classroom.
  • You will get a personal coach to help you with your aims, your career and support in self-reflection.
  • You will enjoy our services to find you a place to live and sort out the paperwork (visa, permits, finances, etc.).
  • You will be studying in The Netherlands, possibly the most international country in the world, and the liberal home of many multinationals.
  • Not to mention the beautiful city of Utrecht where you reside, a friendly version of Amsterdam, including historic canals.
  • But you will also get to experience doing business in Europe, through the Brussels study trip.

The Outcome

  • You will put your new knowledge and skills immediately to practice through our action-learning method.
  • You will be prepared for the new style leadership: adaptable, receptive and inspiring.
  • Based on our past statistics, you should be able to find a new job within three months after finishing your MBA.
  • Our statistics also tell us that your new job will pay significantly better than your pre-MBA job.
  • You will be part of one of the fastest growing alumni programmes once you’ve finished your MBA.

Contact Information:

Ms Shu-hsien Tseng (Shu)

Programme Adviser

TiasNimbas Business School

Representative Office Taipei

1F, No. 118, Sec.1, ZhongXiao W. Rd. . Taipei 10044 (Taiwan) P. +886 2 2349 4977 ext.12 F. +886 2 2349 4931 E. s.tseng@tiasnimbas.edu I. http://www.tiasnimbas.edu/FTMBA

Den Haag  :  Kedutaan Besar Kerajaan Belanda mengalokasikan dana sebesar 30 juta euro atau sekitar Rp450 miliar  untuk program beasiswa mengikuti studi lanjutan di Belanda, periode 2010 – 2014.

Keterangan Kedubes Kerajaan Belanda yang diterima ANTARA, di Den Haag  Rabu [09/12],  menyatakan bahwa kontrak pengelolaan program beasiswa studi ke Belanda tahap keempat ini, ditandatangani bersama Duta Besar Belanda, Dr. Nikolaos van Dam, dan Direktur Nuffic Netherlands Education Support Office (Neso) Indonesia, Marrik Bellen di Jakarta.

Menurut Nikolaos, program studi ke Belanda (StuNed) ini, merupakan suatu bentuk kerja sama bilateral antara Belanda dan Indonesia, yang bertujuan untuk membantu pengembangan sumber daya manusia.

Target program beasiswa StuNed ini, yakni kalangan profesional muda Indonesia. Menurut Nikolaos, prioritas akan diberikan kepada calon peserta yang berasal dari organisasi mitra Kedutaan Belanda seperti departemen, pemerintah daerah, LSM, dan sektor swasta.

“Keputusan untuk menjadikan mitra Kedutaan sebagai kelompok target, karena beasiswa ini dinilai sebagai sarana yang sangat baik untuk mengembangkan kapasitas sumber daya manusia dan institusi para mitra serta untuk memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Belanda,” kata Nikolaos.

Lebih lanjut dia mengatakan, StuNed akan memberikan beasiswa untuk tingkat Master, kursus singkat berdiploma, pelatihan tailor-made, dan kursus penyegaran. Kursus penyegaran ini dirancang untuk para alumni StuNed agar mereka mendapatkan penyegaran ilmu dan peningkatan pengetahuan dan wawasan.

Sejak dimulainya StuNed pada 2000, program ini telah memberikan beasiswa pendidikan ke negeri Belanda kepada lebih dari 2.000 orang profesional Indonesia.  ( ant )

Source: Antara

musthafa di kampus

Setelah dua bulan menjalani studi di program Master of Applied Ethics Utrecht University, saya mencatat beberapa hal menarik terkait dengan sistem pendidikan tinggi di sini yang dalam banyak hal cukup memberi inspirasi. Sebelumnya, jauh sebelum saya berangkat ke Eropa dan mengetahui bahwa sepanjang satu semester di Utrecht University saya hanya akan mengikuti empat mata kuliah, saya merasa cukup senang karena berpikir bahwa beban studi (akademik) saya tidak akan terlalu banyak. Itu berarti saya akan cukup punya waktu untuk berkegiatan di luar aktivitas akademik, termasuk jalan-jalan. Tetapi ternyata saya keliru.

Empat mata kuliah yang untuk satu semester dibagi dalam dua blok itu (satu blok ada dua mata kuliah) ternyata menyita banyak waktu saya. Setelah menuntaskan blok pertama dan selesai mengikuti dua mata kuliah utama, saya jadi tahu bahwa ternyata tugas-tugas kuliah begitu banyak, seperti juga halnya bahan-bahan bacaan yang mesti tuntas dilahap sebelum masuk kelas.

Tugas-tugas itu telah terjadwal dengan rapi sepanjang 9 pekan di blok pertama. Begitu juga bahan bacaan. Sebenarnya, saya sudah menerima informasi tentang satu mata kuliah menyangkut gambaran umum, tujuan, alur, referensi, dan tugas-tugas, tepat 20 hari sebelum perkuliahan dimulai-saat itu saya masih berada di Madura. Dosen pengampu salah satu mata kuliah itu mengirimkannya via email ke seluruh mahasiswa, lengkap dengan peta tempat kuliah, toko buku, dan info pendukung lainnya.

Inilah catatan pertama saya: perkuliahan di sini dirancang dengan sangat matang. Dosen menyiapkan semuanya dengan sangat baik dan terencana. Dan mereka sangat disiplin dengan rencana tersebut, sehingga aktivitas perkuliahan dapat berjalan dengan sangat baik.

Dari sisi mahasiswa, perkuliahan di sini menuntut kerja keras dan kemandirian. Jika tak membaca bahan bacaan atau artikel yang diwajibkan untuk satu pertemuan tertentu, jangan harap kita bisa benar-benar paham dengan apa yang sedang dibicarakan di kelas. Kelas di sini bukan dirancang untuk menambah stok pengetahuan baru. Kelas adalah ruang untuk mendiskusikan artikel relevan yang sudah ditentukan sebelumnya dalam daftar referensi, dan dosen menjadi pengarah dan mitra yang menawarkan alur dan alternatif.

Memang, pada tataran ide, hal semacam ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Dahulu, di dunia pendidikan Indonesia ada istilah CBSA, atau Cara Belajar Siswa Aktif. Sayangnya, hal semacam ini, bahkan di tingkat perguruan tinggi pun, baru lebih sebagai teori saja. Di tingkat praktik, sulit sekali kita menemukan sistem belajar semacam ini. Karena itu, menjalani suatu proses belajar yang benar-benar menuntut sikap aktif seperti ini buat saya adalah sesuatu yang baru, menarik, dan menantang.

Inilah catatan kedua saya: sistem kuliah di sini, paling tidak dari pengalaman saya dua bulan ini, memberi ruang dan bahkan menuntut sikap aktif dari mahasiswa.

Dengan jumlah mata kuliah yang relatif sedikit dalam satu semester, saya juga mencatat bahwa tradisi akademik di sini adalah memberi kesempatan yang cukup leluasa untuk menggali suatu tema hingga cukup mendalam. Dengan kata lain: terfokus. Mata kuliahnya saja sudah cukup spesifik. Dalam blok pertama, misalnya, saya mengikuti dua kuliah dengan nama Ethical Theory and Moral Practice dan satu lagi Human Dignity and Human Rights. Hasilnya tentu saja lebih jelas, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tema tertentu.

Setelah saya telusuri, ternyata hal semacam ini tidak hanya berlaku di tingkat program magister. Salah seorang teman sekelas saya yang orang Belanda kebetulan berlatar belakang pendidikan S1 jurusan filsafat. Menurut dia, kuliah di S1 di sini juga demikian adanya: satu semester terdiri dari empat mata kuliah.

Saya beruntung telah belajar bersama teman-teman kelas yang berjumlah sekitar 20 orang dengan latar yang sangat beragam. Mereka berasal dari berbagai negara: Belanda, Amerika, Kanada, Italia, Serbia, Slovenia, Italia, Afrika Selatan, Bangladesh, dan Cina. Karena jurusan saya terbilang interdisipliner, latar belakang studi mereka juga beragam, tak hanya filsafat. Ada yang kedokteran, hukum, turisme, ekonomi, dan politik. Dengan aneka latar itu, di kelas kami dapat berbagi banyak hal berdasarkan perspektif masing-masing.

applied-ethics-dinner

applied-ethics-dinner

Dari segi usia, mereka sangat beragam. Beberapa masih berumur 23 tahun, belum lama menyelesaikan studi S1. Tapi ada juga yang sudah berkepala lima-mungkin seusia dengan sang dosen. Yang menarik, mereka yang sudah cukup lanjut itu mengikuti program ini bukan semata untuk meraih gelar, tapi tampak karena benar-benar haus akan ilmu dan pengalaman akademik. Salah seorang di antara mereka, yang kebetulan pernah satu kelompok dalam dua tugas mata kuliah bersama saya, adalah seorang perempuan yang sudah punya cucu dan telah bekerja sebagai dosen di NHTV Breda University. Dia meminati studi turisme dan merasa perlu belajar tentang aspek etis dalam turisme sehingga dia mengikuti program ini.

Demikianlah. Sejak sebelum berangkat, saya memang telah mencatat bahwa saya belajar di Eropa tidak hanya sekadar untuk menuntut ilmu khusus sesuai dengan jurusan saya. Saya juga ingin sekali belajar tentang bagaimana sistem perkuliahan di Eropa berlangsung. Dan, selama dua bulan di sini, saya sudah belajar banyak hal tentang itu. Mungkin apa yang saya tangkap ini memang masih belum cukup menjadi gambaran yang utuh tentang sistem pendidikan di sini. Akan tetapi, semuanya tampak inspiratif. Beberapa di antaranya ingin sekali saya coba nanti di Indonesia, meski tak musti dilakukan di sistem pendidikan formal.

Saya yakin, dalam rentang sisa waktu saya di sini, saya masih akan belajar banyak hal tentang semua itu-semoga bisa lebih luas, mendalam, dan substantif.

Zeist, 9/11/2009, 8.30

Cerita M Musthafa

Sumber:  http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/2009/11/11/belajar-tentang-belajar-dua-bulan-di-utrecht-university/