senoKali ini tim blog Indonesia berkesempatan mewawancarai salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda. Berikut ceritanya:

Widyoseno Estitoyo, lulusan SMA 6 Surabaya, masih tetap tak percaya bahwa akhirnya ia bisa menjejakkan kaki di Belanda. Informasi sekolah di Belanda diperolehnya dari Neso Surabaya pada tahun 2005. Pria kelahiran Makassar, 15 September 1987 ini, sekarang tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Mälardalen Högskola, Swedia.

Seno memilih jurusan International Business and Management Studies di Hanze University of Applied Sciences karena mata kuliah yang ditawarkan sesuai impiannya. Seno merasa beruntung bisa kuliah di tempat ini. Ia bisa merasakan suasana kelas yang sangat internasional dengan teman-teman yang berasal dari berbagai negara, seperti Jerman, Cina, Rusia dan juga Belanda. Meskipun jadwal kuliah sangat padat, Seno tetap bisa menikmati waktu senggangnya. Memilih berkuliah di University of Applied Science, mahasiswa dituntut siap dengan metode pengajaran yang menitikberatkan pada ilmu terapan atau praktek. Karena itulah, dia banyak melakukan observasi dan magang di beragam institusi di Belanda.

Salah satu mata kuliah di jurusan ini adalah persiapan masuk dunia kerja. Mahasiswa diajarkan bagaimana membuat cover letter, melihat kelebihan diri sendiri, tips dan trik mencari pekerjaan, termasuk bagaimana bila kita adalah pemilik modal yang ingin menjual perusahaan kita kepada para pencari kerja. Di kampus, ada fasilitas web berisi informasi perusahaan-perusahaan yang sedang mencari mahasiswa magang. Bagi yang berminat, bisa langsung menghubungi perusahaan yang bersangkutan. Ini merupakan sebuah proses belajar mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat mahasiswa. Umumnya, perusahaan di sana sangat terbuka bagi mahasiswa yang ingin mendalami ilmu praktis di tempat mereka.

Hal lain yang menarik adalah kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke universitas lain. Sejak Agustus 2008, Seno berada di Swedia dalam rangka program pertukaran pelajar di Mälardalen Högskola. Banyak manfaat yang didapatnya, antara lain: menambah wawasan, teman baru, meningkatkan kepercayaan diri, kesempatan belajar bahasa dan budaya baru, serta memahami perspektif berbeda dari yang sudah diperolehnya di Belanda. Bahkan, segera setelah menyelesaikan program pertukaran pelajar ini, sebuah perusahaan di Inggris telah menerimanya untuk melakukan program magang.

Ketika disinggung tentang tantangan menjadi mahasiswa asing di Belanda, mantan Wakil Ketua PPI Groningen ini mengungkapkan, “Awalnya saya ragu berbicara dalam Bahasa Inggris, namun lama-kelamaan, rasa percaya diri saya meningkat. Selain di dalam kelas, Bahasa Inggris juga bisa digunakan dalam keseharian. Ternyata, orang-orang Belanda sangat fasih!”. Sebagai mahasiswa, Seno juga mempelajari bahasa Belanda agar membantunya bersosialisasi dengan masyarakat setempat.

Tantangan yang tak kalah susahnya adalah beradaptasi dengan budaya Belanda. Sebuah pengalaman lucu yang tak mungkin terlupakan adalah ketika pertama kali kerja kelompok dengan beberapa teman internasional di universitas. Pernah suatu kali ketika berkumpul dengan teman untuk berbicara masalah waktu pertemuan, aku belum sempat memiliki agenda untuk menulis jadwal dan alih-alih menggunakan secarik kertas alakadarnya .Lalu, salah seorang kawan Belanda berceletuk ,” You’ve got a nice agenda!”. Sesaat setelah pertemuan usai, aku langsung membeli agenda untuk menulis jadwal sehari-hari. Akhirnya, mau-tak-mau aku berasimilasi dengan budaya Belanda yang terkenal segala sesuatu harus tertulis di agenda. Seperti saran seseorang, ” Ambil yang baik dari sebuah budaya dan buang yang buruk”

Hidup di Belanda sangat mudah untuk mahasiswa asing seperti Seno. Fasilitas publik yang nyaman, sistem transportasi yang terintegrasi dan tepat waktu, ditambah lagi banyaknya pilihan menyaksikan pertunjukan seni budaya, mulai dari musik, teater, film, dan sebagainya. Ingin menonton konser band-band terkenal? Disinilah tempatnya!