Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

Tag: Profil Mahasiswa

musthafa di kampus

Setelah dua bulan menjalani studi di program Master of Applied Ethics Utrecht University, saya mencatat beberapa hal menarik terkait dengan sistem pendidikan tinggi di sini yang dalam banyak hal cukup memberi inspirasi. Sebelumnya, jauh sebelum saya berangkat ke Eropa dan mengetahui bahwa sepanjang satu semester di Utrecht University saya hanya akan mengikuti empat mata kuliah, saya merasa cukup senang karena berpikir bahwa beban studi (akademik) saya tidak akan terlalu banyak. Itu berarti saya akan cukup punya waktu untuk berkegiatan di luar aktivitas akademik, termasuk jalan-jalan. Tetapi ternyata saya keliru.

Empat mata kuliah yang untuk satu semester dibagi dalam dua blok itu (satu blok ada dua mata kuliah) ternyata menyita banyak waktu saya. Setelah menuntaskan blok pertama dan selesai mengikuti dua mata kuliah utama, saya jadi tahu bahwa ternyata tugas-tugas kuliah begitu banyak, seperti juga halnya bahan-bahan bacaan yang mesti tuntas dilahap sebelum masuk kelas.

Tugas-tugas itu telah terjadwal dengan rapi sepanjang 9 pekan di blok pertama. Begitu juga bahan bacaan. Sebenarnya, saya sudah menerima informasi tentang satu mata kuliah menyangkut gambaran umum, tujuan, alur, referensi, dan tugas-tugas, tepat 20 hari sebelum perkuliahan dimulai-saat itu saya masih berada di Madura. Dosen pengampu salah satu mata kuliah itu mengirimkannya via email ke seluruh mahasiswa, lengkap dengan peta tempat kuliah, toko buku, dan info pendukung lainnya.

Inilah catatan pertama saya: perkuliahan di sini dirancang dengan sangat matang. Dosen menyiapkan semuanya dengan sangat baik dan terencana. Dan mereka sangat disiplin dengan rencana tersebut, sehingga aktivitas perkuliahan dapat berjalan dengan sangat baik.

Dari sisi mahasiswa, perkuliahan di sini menuntut kerja keras dan kemandirian. Jika tak membaca bahan bacaan atau artikel yang diwajibkan untuk satu pertemuan tertentu, jangan harap kita bisa benar-benar paham dengan apa yang sedang dibicarakan di kelas. Kelas di sini bukan dirancang untuk menambah stok pengetahuan baru. Kelas adalah ruang untuk mendiskusikan artikel relevan yang sudah ditentukan sebelumnya dalam daftar referensi, dan dosen menjadi pengarah dan mitra yang menawarkan alur dan alternatif.

Memang, pada tataran ide, hal semacam ini mungkin bukan sesuatu yang baru. Dahulu, di dunia pendidikan Indonesia ada istilah CBSA, atau Cara Belajar Siswa Aktif. Sayangnya, hal semacam ini, bahkan di tingkat perguruan tinggi pun, baru lebih sebagai teori saja. Di tingkat praktik, sulit sekali kita menemukan sistem belajar semacam ini. Karena itu, menjalani suatu proses belajar yang benar-benar menuntut sikap aktif seperti ini buat saya adalah sesuatu yang baru, menarik, dan menantang.

Inilah catatan kedua saya: sistem kuliah di sini, paling tidak dari pengalaman saya dua bulan ini, memberi ruang dan bahkan menuntut sikap aktif dari mahasiswa.

Dengan jumlah mata kuliah yang relatif sedikit dalam satu semester, saya juga mencatat bahwa tradisi akademik di sini adalah memberi kesempatan yang cukup leluasa untuk menggali suatu tema hingga cukup mendalam. Dengan kata lain: terfokus. Mata kuliahnya saja sudah cukup spesifik. Dalam blok pertama, misalnya, saya mengikuti dua kuliah dengan nama Ethical Theory and Moral Practice dan satu lagi Human Dignity and Human Rights. Hasilnya tentu saja lebih jelas, memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang tema tertentu.

Setelah saya telusuri, ternyata hal semacam ini tidak hanya berlaku di tingkat program magister. Salah seorang teman sekelas saya yang orang Belanda kebetulan berlatar belakang pendidikan S1 jurusan filsafat. Menurut dia, kuliah di S1 di sini juga demikian adanya: satu semester terdiri dari empat mata kuliah.

Saya beruntung telah belajar bersama teman-teman kelas yang berjumlah sekitar 20 orang dengan latar yang sangat beragam. Mereka berasal dari berbagai negara: Belanda, Amerika, Kanada, Italia, Serbia, Slovenia, Italia, Afrika Selatan, Bangladesh, dan Cina. Karena jurusan saya terbilang interdisipliner, latar belakang studi mereka juga beragam, tak hanya filsafat. Ada yang kedokteran, hukum, turisme, ekonomi, dan politik. Dengan aneka latar itu, di kelas kami dapat berbagi banyak hal berdasarkan perspektif masing-masing.

applied-ethics-dinner

applied-ethics-dinner

Dari segi usia, mereka sangat beragam. Beberapa masih berumur 23 tahun, belum lama menyelesaikan studi S1. Tapi ada juga yang sudah berkepala lima-mungkin seusia dengan sang dosen. Yang menarik, mereka yang sudah cukup lanjut itu mengikuti program ini bukan semata untuk meraih gelar, tapi tampak karena benar-benar haus akan ilmu dan pengalaman akademik. Salah seorang di antara mereka, yang kebetulan pernah satu kelompok dalam dua tugas mata kuliah bersama saya, adalah seorang perempuan yang sudah punya cucu dan telah bekerja sebagai dosen di NHTV Breda University. Dia meminati studi turisme dan merasa perlu belajar tentang aspek etis dalam turisme sehingga dia mengikuti program ini.

Demikianlah. Sejak sebelum berangkat, saya memang telah mencatat bahwa saya belajar di Eropa tidak hanya sekadar untuk menuntut ilmu khusus sesuai dengan jurusan saya. Saya juga ingin sekali belajar tentang bagaimana sistem perkuliahan di Eropa berlangsung. Dan, selama dua bulan di sini, saya sudah belajar banyak hal tentang itu. Mungkin apa yang saya tangkap ini memang masih belum cukup menjadi gambaran yang utuh tentang sistem pendidikan di sini. Akan tetapi, semuanya tampak inspiratif. Beberapa di antaranya ingin sekali saya coba nanti di Indonesia, meski tak musti dilakukan di sistem pendidikan formal.

Saya yakin, dalam rentang sisa waktu saya di sini, saya masih akan belajar banyak hal tentang semua itu-semoga bisa lebih luas, mendalam, dan substantif.

Zeist, 9/11/2009, 8.30

Cerita M Musthafa

Sumber:  http://blogs.rnw.nl/pengalamanku/2009/11/11/belajar-tentang-belajar-dua-bulan-di-utrecht-university/

img_1351Suara merdu soprano cilik itu terngiang-ngiang di telinga saya. Bak malaikat kecil, ia menyanyikan lagu “Pie Jesu” yang digubah oleh Andrew Lloyd Weber dengan sangat indahnya. Dia adalah Charlotte Church yang pada usia ke-12nya meluncurkan album lagu-lagu klasik pertamanya. Dialah yang pertama kali menginspirasi saya dalam hal memilih profesi saya kelak, yaitu menjadi penyanyi klasik/seriosa. Saat itu saya masih berumur 11 tahun, namun tekad hati untuk mewujudkan cita-cita saya sudah bulat. “Suatu hari, saya harus bisa seperti dia!”, tutur saya dalam hati. Semenjak itulah saya memutuskan untuk menekuni bidang tarik suara dengan lebih serius dan mantap. Dan….Voilà! Inilah saya sekarang, mahasiswi musik tahun ke-3 di !

Tak disangka-sangka, tekad bulat sedari kecil membawa saya sampai ke kota Utrecht, kota terbesar keempat di Belanda. Utrecht juga terkenal sebagai salah satu kota tertua di Belanda. Tak heran jika disini masih bisa ditemukan banyak peninggalan-peninggalan dari zaman Barok yang secara otomatis menjadikan Utrecht sebagai kota kebudayaan dan kesenian. Banyak sekali festival-festival musik, teater, dan tari yang berlangsung disini. Inilah salah satu alasan kenapa saya memilih untuk belajar di Utrecht. Kita bisa dengan mudah menemukan pertunjukan musik dimana-mana, seperti kentang goreng yang bisa ditemukan dimana saja di Belanda. Terlebih lagi juga karena lingkungan belajarnya yang cukup internasional dan mendukung perkembangan jaringan antar musisi.

Ternyata untuk menjadi musisi profesional, tak hanya dibutuhkan talenta dan musikalitas semata, tetapi teknik juga merupakan elemen yang sangat penting dalam kehidupan permusisian kita. Mengasah teknik merupakan bagian yang paling esensial di Konservatorium musik. “Teknik, teknik, teknik!”, itulah semboyan dari Cecillia Bartolli, salah satu mezzo soprano terkenal dunia dari Italia. Dan saya baru mengerti arti sebenarnya setelah benar-benar berkecimpung di dunia permusikan ini. Sebagai musisi profesional, kita dituntut untuk selalu melatih teknik secara rutin supaya otot-otot kita terbiasa dengan posisi-posisi tertentu, yang nantinya dapat memudahkan kita dalam mengungkapkan dan menyampaikan ide musikalitas kita kepada orang lain. Tak heran jika anak-anak konservatorium sehari-harinya selalu menghabiskan waktu untuk latihan dari pagi sampai malam hari. Jangka waktu latihannya bervariasi, tergantung instrumen apa yang menjadi spesialisasinya. Bagi para pianis, mereka disarankan untuk latihan paling tidak 5 sampai 6 jam sehari. Lain halnya dengan vokalis, kami tidak bisa latihan terlalu lama dikarenakan oleh kondisi pita suara kami yang sangat “fragile”. Tapi yang paling penting, harus selalu rutin latihan!

Disisi lain, musik tidak sebegitu rumitnya juga untuk diwujudkan. Musik merupakan bahasa yang paling universal kata banyak orang. Saya mengalami sendiri bagaimana musik bekerja dengan hebatnya untuk setiap orang. Tak perlu satu bahasa, satu kewarganegaraan, kita semua bisa membuat musik bersama. Saya disini mendapat pelajaran “Community Music”, yaitu bagaimana kita bisa membuat dan bermain musik bersama dengan orang lain yang levelnya belum tentu sama dengan kita. Contohnya anak-anak kecil.

Dengan beberapa teman internasional, saya pergi ke suatu sekolah dasar untuk mengajar musik disana sebagai tugas akhir tahun. Betapa kagetnya saya melihat keantusiasan anak-anak tersebut. Definisi belajar musik tidak hanya semata-mata belajar membaca not balok, kord, tangga nada, dll. Belajar musik bisa juga dengan sesuatu yang simpel, seperti clapping game dengan beat/tempo tertentu atau meminta mereka untuk memimpin orkestra perkusi yang memungkinkan mereka untuk membuat berbagai macam dinamik tampa harus pusing dengan untaian nada dan not. Tidak hanya soal bagaimana mengeluarkan suara yang merdu atau permainan melodi yang sempurna, tapi juga kesempatan dan kebebasan mereka untuk “making music”. Hanya dengan Bahasa Belanda yang tidak seberapa fasih, mereka ternyata bisa mengerti semua instruksi kami. Hanya dengan musik, semuanya mungkin!

Pengalaman-pengalaman tersebut menjadi pegangan saya untuk selalu berada di jalur yang seimbang. Talenta dan musikalitas jelas diperlukan dalam hal ini, namun harus didukung juga dengan teknik bermain musik atau bernyanyi yang benar sebagai bekal ilmu menuju dunia musik profesional nantinya.

(Bernadeta Astari, Mahasiswi musik di Konservatorium Utrecht, Belanda)

senoKali ini tim blog Indonesia berkesempatan mewawancarai salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Belanda. Berikut ceritanya:

Widyoseno Estitoyo, lulusan SMA 6 Surabaya, masih tetap tak percaya bahwa akhirnya ia bisa menjejakkan kaki di Belanda. Informasi sekolah di Belanda diperolehnya dari Neso Surabaya pada tahun 2005. Pria kelahiran Makassar, 15 September 1987 ini, sekarang tengah mengikuti program pertukaran pelajar di Mälardalen Högskola, Swedia.

Seno memilih jurusan International Business and Management Studies di Hanze University of Applied Sciences karena mata kuliah yang ditawarkan sesuai impiannya. Seno merasa beruntung bisa kuliah di tempat ini. Ia bisa merasakan suasana kelas yang sangat internasional dengan teman-teman yang berasal dari berbagai negara, seperti Jerman, Cina, Rusia dan juga Belanda. Meskipun jadwal kuliah sangat padat, Seno tetap bisa menikmati waktu senggangnya. Memilih berkuliah di University of Applied Science, mahasiswa dituntut siap dengan metode pengajaran yang menitikberatkan pada ilmu terapan atau praktek. Karena itulah, dia banyak melakukan observasi dan magang di beragam institusi di Belanda.

Salah satu mata kuliah di jurusan ini adalah persiapan masuk dunia kerja. Mahasiswa diajarkan bagaimana membuat cover letter, melihat kelebihan diri sendiri, tips dan trik mencari pekerjaan, termasuk bagaimana bila kita adalah pemilik modal yang ingin menjual perusahaan kita kepada para pencari kerja. Di kampus, ada fasilitas web berisi informasi perusahaan-perusahaan yang sedang mencari mahasiswa magang. Bagi yang berminat, bisa langsung menghubungi perusahaan yang bersangkutan. Ini merupakan sebuah proses belajar mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat mahasiswa. Umumnya, perusahaan di sana sangat terbuka bagi mahasiswa yang ingin mendalami ilmu praktis di tempat mereka.

Hal lain yang menarik adalah kesempatan mengikuti program pertukaran pelajar ke universitas lain. Sejak Agustus 2008, Seno berada di Swedia dalam rangka program pertukaran pelajar di Mälardalen Högskola. Banyak manfaat yang didapatnya, antara lain: menambah wawasan, teman baru, meningkatkan kepercayaan diri, kesempatan belajar bahasa dan budaya baru, serta memahami perspektif berbeda dari yang sudah diperolehnya di Belanda. Bahkan, segera setelah menyelesaikan program pertukaran pelajar ini, sebuah perusahaan di Inggris telah menerimanya untuk melakukan program magang.

Ketika disinggung tentang tantangan menjadi mahasiswa asing di Belanda, mantan Wakil Ketua PPI Groningen ini mengungkapkan, “Awalnya saya ragu berbicara dalam Bahasa Inggris, namun lama-kelamaan, rasa percaya diri saya meningkat. Selain di dalam kelas, Bahasa Inggris juga bisa digunakan dalam keseharian. Ternyata, orang-orang Belanda sangat fasih!”. Sebagai mahasiswa, Seno juga mempelajari bahasa Belanda agar membantunya bersosialisasi dengan masyarakat setempat.

Tantangan yang tak kalah susahnya adalah beradaptasi dengan budaya Belanda. Sebuah pengalaman lucu yang tak mungkin terlupakan adalah ketika pertama kali kerja kelompok dengan beberapa teman internasional di universitas. Pernah suatu kali ketika berkumpul dengan teman untuk berbicara masalah waktu pertemuan, aku belum sempat memiliki agenda untuk menulis jadwal dan alih-alih menggunakan secarik kertas alakadarnya .Lalu, salah seorang kawan Belanda berceletuk ,” You’ve got a nice agenda!”. Sesaat setelah pertemuan usai, aku langsung membeli agenda untuk menulis jadwal sehari-hari. Akhirnya, mau-tak-mau aku berasimilasi dengan budaya Belanda yang terkenal segala sesuatu harus tertulis di agenda. Seperti saran seseorang, ” Ambil yang baik dari sebuah budaya dan buang yang buruk”

Hidup di Belanda sangat mudah untuk mahasiswa asing seperti Seno. Fasilitas publik yang nyaman, sistem transportasi yang terintegrasi dan tepat waktu, ditambah lagi banyaknya pilihan menyaksikan pertunjukan seni budaya, mulai dari musik, teater, film, dan sebagainya. Ingin menonton konser band-band terkenal? Disinilah tempatnya!