Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

Tag: Study in Holland

How orange can Holland be on 30 April

On April 30 the Dutch celebrate the birthday of their Queen, Queen Beatrix, although it is not her actual birthday but her mother’s, Queen Juliana. Queen Beatrix’s birthday is in fact on January 31, however, when she ascended to the throne in 1980, she decided to keep the previous date so that the people can enjoy the traditional outdoor festivities in the sunny spring instead of cold dreary winter.

On this day, the Dutch play games, listen to various concerts, fairs, etc on every city. The queen and the family sometimes visit one or two town each year and take part in a game if possible. The most splendid and candid celebrations are usually happening in cities like Amsterdam, Den Haag, Utrecht and Rotterdam. However, the long-waited activity during this day is the ‘free-market’, a time when people are allowed to sell anything they want outdoors, as long as it’s not food or alcohol. The market attract enormous crowd and become a sort-of giant flea market.

What’s important, only on Queen’s Day you are allowed yourself to go crazy with dressing up. Apart from the flags and decorations in the traditional national colors of red, white and blue, the whole country turns orange. Everywhere you will see people adorn in something orange marking the joyous occasion. Why orange, you ask. Because orange is the color of the Dutch Royal Family, dated back from Willem van Oranje (William of Orange). It also symbolizes the pride of being Dutch.

And how do the Indonesian students there celebrate the iconic day you may ask? Some try their luck by participating in games or showing off their abilities as street performers on the street, some sell their old items/art crafts/secondhand goods in bulks, some even donning something orange and join the throngs of orange-colored-people. This is the moment that you can only find when you are in Holland. It’s fun time. It’s party time!

So, ready to join the oranjegekte now? (Note: oranjegekte means orange craze)

Punya mimpi merasakan sendiri pengalaman Summer Course di salah satu Universitas terbaik di dunia dan bertemu dengan teman-teman dari mancanegara? Cukup dengan nge-blog kamu bisa mewujudkan impian tersebut.

Nuffic Neso Indonesia untuk kedua kalinya mempersembahkan Kompetiblog Studi di Belanda 2010.  Kembali menggandeng dagdigdug kegiatan tahunan ini diharapkan bisa menarik minat lebih banyak blogger untuk ikut serta. Tahun lalu lebih dari 1000 blogger telah mendaftarkan diri untuk mengikuti kompetiblog dan menghasilkan Ina dan Atta yang telah merasakan sendiri pengalaman Summer Course di Utrecht.

Tema yang diusung oleh panitia untuk Kompetiblog 2010 adalah: “Dutch innovation, in my opinion”. [Keterangan tentang tema bisa dilihat disini]. Melalui tema ini panitia mengajak para blogger untuk menuliskan kemajuan ilmu pengetahuan baik ilmu pasti atau ilmu sosial di Belanda termasuk penemuan ilmiah yang berdampak luas bagi dunia / masyarakat. Hal tersebut termasuk inovasi dimana Belanda unggul dan terkenal di bidangnya.

Siapakah yang dapat mengikuti kompetisi ini? Blogger, warga negara Indonesia dan berdomisili di Indonesia saat mengikuti kompetisi ini, berusia antara 17-35 tahun dan belum pernah menempuh studi di Belanda, serta memiliki blog pribadi. Ketentuan lengkap mengenai tata cara mengikuti Kompetiblog Studi di Belanda 2010 dapat dilihat di Terms and Condition.

Pemenang pertama berhak untuk merasakan pengalaman mengikuti Summer Course di Utrecht University .

Tertarik? Mulailah menulis dan berangkatlah ke Belanda. Awali dengan mendaftar disini

Follow akun twitter Studi di Belanda di @studidibelanda

Website: http://kompetiblog2010.studidibelanda.com

Laporan Wartawan Persda Yon Daryono dari Belanda

DELFT, KOMPAS.com — Kemampuan mahasiswa Indonesia di luar negeri ternyata cukup membanggakan nama Tanah Air. Dwi Hartanto, mahasiswa master di Universitas Teknologi Delft (TU Delft), Belanda, rencananya akan meluncurkan nanosatelit yang dinamakan Delfi-n3Xt pada pertengahan tahun 2010.

Sebelumnya, nanosatelit Delfi-C3 juga berhasil diluncurkan pada tahun 2008. Nanosatelit ini diklaim sebagai satelit pertama buatan mahasiswa di Belanda yang berhasil mengorbit bumi.

Rahmadi, Wakil Sekjen PPI Belanda, menyampaikan informasi tersebut kepada Persda network melalui surat elektronik seusai Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) yang rutin diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda, pekan lalu. “Dwi memaparkan riset pembuatan nanosatelit, mulai dari desain, fitur-fitur yang disyaratkan, serta misi peluncurannya,” ujar Rahmadi.

Menurutnya, keberhasilan salah satu mahasiswa asal Indonesia seperti Dwi patut diapresisasi. Pasalnya, dunia riset memang semestinya terbangun oleh tiga pilar besar, yaitu institusi pendidikan, pemerintah, dan industri.

Pada kesempatan itu pula, kolega Dwi, Aryo Primagati, yang saat ini bekerja sebagai insinyur telekomunikasi pada ISIS (Innovative Solutions In Space), sebuah perusahaan kecil yang didirikan alumni TU Delft yang pernah terlibat pada proyek nanosatelit Delfi-C3, mengatakan bahwa riset pembuatan nanosatelit sangat cocok dijadikan proyek penelitian dalam skala universitas. Selain desain yang lebih sederhana pada ukuran yang lebih kecil, dana yang dibutuhkan juga jauh lebih kecil dibandingkan satelit konvensional.

Sekadar perbandingan, Aryo mengatakan bahwa untuk membangun dan meluncurkan sebuah satelit normal diperlukan biaya jutaan euro (puluhan hingga ratusan miliar rupiah) dengan waktu pengembangan 5-10 tahun. Adapun untuk nanosatelit, seperti Delfi C3 atau Delfi-n3Xt, hanya diperlukan waktu satu sampai dua tahun pengembangan dengan biaya sekitar 100 sampai 200.000 euro (sekitar Rp 1,5 sampai Rp 3 miliar).

Pada akhir sesi presentasi KOPI Delft kali ini, Dedy Wicaksono, peneliti pasca-doktoral di TU Delft, memaparkan visi dan ambisi mereka bersama untuk menggagas sebuah proyek nanosatelit untuk mahasiswa Indonesia yang diberi nama INSPIRE (Indonesian Nano-Satellite Platform Initiative for Research and Education).

Mengingat, sebenarnya Indonesia telah merintis dunia riset antariksa sejak dekade 1960-an. Ide yang dibawa oleh Dedy bersama koleganya adalah membuat suatu konsorsium yang terdiri dari berbagai universitas di Indonesia, lembaga-lembaga penelitian pemerintah, dan tentunya rekanan dari dunia industri sebagai sponsor pendanaan.

Senada dengan Dedy, Aryo pun menilai misi peluncuran INSPIRE 1 hendaknya tidak terlalu mensyaratkan misi yang terlampau sulit. Pada kenyataannya, selain sebagai satelit komunikasi radio amatir, misi Delfi-C3 yang utama adalah sebagai technology demonstration and development. Mengenai masalah pendanaan, kiranya perlu dicari solusi yang terbaik. Salah satu yang sudah direncanakan adalah mengajukan proposal proyek INSPIRE ke berbagai pihak terkait di Tanah Air.

Acara Kolokium PPI Delft atau sering disingkat KOPI Delft ini adalah acara rutin dwi mingguan yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda. (yondaryono, persdanetwork)

Source: http://sains.kompas.com/read/2009/06/18/10311048/mahasiswa.ri.luncurkan.satelit.di.belanda.2010