Selamat Datang

Belajar ke Negeri Belanda itu mudah. Anda tidak harus menguasai bahasa Belanda karena kuliah berlangsung dalam bahasa Inggris.

Tag: TU Delft

Laporan Wartawan Persda Yon Daryono dari Belanda

DELFT, KOMPAS.com — Kemampuan mahasiswa Indonesia di luar negeri ternyata cukup membanggakan nama Tanah Air. Dwi Hartanto, mahasiswa master di Universitas Teknologi Delft (TU Delft), Belanda, rencananya akan meluncurkan nanosatelit yang dinamakan Delfi-n3Xt pada pertengahan tahun 2010.

Sebelumnya, nanosatelit Delfi-C3 juga berhasil diluncurkan pada tahun 2008. Nanosatelit ini diklaim sebagai satelit pertama buatan mahasiswa di Belanda yang berhasil mengorbit bumi.

Rahmadi, Wakil Sekjen PPI Belanda, menyampaikan informasi tersebut kepada Persda network melalui surat elektronik seusai Kolokium PPI Delft (KOPI Delft) yang rutin diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda, pekan lalu. “Dwi memaparkan riset pembuatan nanosatelit, mulai dari desain, fitur-fitur yang disyaratkan, serta misi peluncurannya,” ujar Rahmadi.

Menurutnya, keberhasilan salah satu mahasiswa asal Indonesia seperti Dwi patut diapresisasi. Pasalnya, dunia riset memang semestinya terbangun oleh tiga pilar besar, yaitu institusi pendidikan, pemerintah, dan industri.

Pada kesempatan itu pula, kolega Dwi, Aryo Primagati, yang saat ini bekerja sebagai insinyur telekomunikasi pada ISIS (Innovative Solutions In Space), sebuah perusahaan kecil yang didirikan alumni TU Delft yang pernah terlibat pada proyek nanosatelit Delfi-C3, mengatakan bahwa riset pembuatan nanosatelit sangat cocok dijadikan proyek penelitian dalam skala universitas. Selain desain yang lebih sederhana pada ukuran yang lebih kecil, dana yang dibutuhkan juga jauh lebih kecil dibandingkan satelit konvensional.

Sekadar perbandingan, Aryo mengatakan bahwa untuk membangun dan meluncurkan sebuah satelit normal diperlukan biaya jutaan euro (puluhan hingga ratusan miliar rupiah) dengan waktu pengembangan 5-10 tahun. Adapun untuk nanosatelit, seperti Delfi C3 atau Delfi-n3Xt, hanya diperlukan waktu satu sampai dua tahun pengembangan dengan biaya sekitar 100 sampai 200.000 euro (sekitar Rp 1,5 sampai Rp 3 miliar).

Pada akhir sesi presentasi KOPI Delft kali ini, Dedy Wicaksono, peneliti pasca-doktoral di TU Delft, memaparkan visi dan ambisi mereka bersama untuk menggagas sebuah proyek nanosatelit untuk mahasiswa Indonesia yang diberi nama INSPIRE (Indonesian Nano-Satellite Platform Initiative for Research and Education).

Mengingat, sebenarnya Indonesia telah merintis dunia riset antariksa sejak dekade 1960-an. Ide yang dibawa oleh Dedy bersama koleganya adalah membuat suatu konsorsium yang terdiri dari berbagai universitas di Indonesia, lembaga-lembaga penelitian pemerintah, dan tentunya rekanan dari dunia industri sebagai sponsor pendanaan.

Senada dengan Dedy, Aryo pun menilai misi peluncuran INSPIRE 1 hendaknya tidak terlalu mensyaratkan misi yang terlampau sulit. Pada kenyataannya, selain sebagai satelit komunikasi radio amatir, misi Delfi-C3 yang utama adalah sebagai technology demonstration and development. Mengenai masalah pendanaan, kiranya perlu dicari solusi yang terbaik. Salah satu yang sudah direncanakan adalah mengajukan proposal proyek INSPIRE ke berbagai pihak terkait di Tanah Air.

Acara Kolokium PPI Delft atau sering disingkat KOPI Delft ini adalah acara rutin dwi mingguan yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia di Delft, Belanda. (yondaryono, persdanetwork)

Source: http://sains.kompas.com/read/2009/06/18/10311048/mahasiswa.ri.luncurkan.satelit.di.belanda.2010

Blog Studi di Belanda mendapat kontribusi artikel dari salah seorang mahasiswa TU Delft Belanda, sebuah pemaparan yang menarik untuk yang tertarik mendalami bidang desain industri. Selamat Membaca!

===

Ketika saya memutuskan melanjutkan pendidikan di bidang Industrial Design di TU Delft, Belanda, banyak rekan saya yang  bertanya mengapa memilih Belanda dan bukan negara lain seperti Jerman misalnya, yang merupakan negara penghasil produk industri dari brand-brand terkemuka di dunia.  Perancis atau Italia yang katanya lebih identik dengan dunia artistik dan dunia glamour para designernya; atau Amerika yang konon tempat sekolah-sekolah industrial design ternama di dunia ?

Belanda memang cukup terkenal di bidang teknologi konstruksi, teknik sipil dan maritimnya, begitu pula di bidang seni rupa  Belanda memiliki nama-nama besar seperti Rembrandt; Vermeer; dan Vincent Van Gogh. Tapi tidak banyak orang yang mengetahui bagaimana sebenarnya kiprah Belanda di dunia Industrial Design

Tanpa banyak orang menyadari, sebenarnya para alumni Industrial Design Belanda dalam hal ini secara khusus TU Delft almamater saya, justru banyak sekali berpengaruh dan memegang peranan penting di industri-industri dan institusi-institusi design terkemuka di dunia…

Saya mulai dengan nama Harm Lagaay, seorang automotive designer kawakan yang merupakan alumni TU Delft. Desainer Belanda inilah yang merancang mobil-mobil Porsche 911; 924; Porsche Carrera Series yang legendaris itu. Kemudian antara tahun 1977-1985 beliau juga pernah menjabat sebagai Chief Design di Ford. Lagaay pulalah yang mendesign BMW Z1 pada era 90 an, sebelum beliau akhirnya kembali ke Porsche menjadi Chief Styling Design di sana hingga usia pensiunnya di tahun 2004.

Tidak banyak pula yang tahu bahwa di balik kebesaran nama BMW terdapat pula nama Adrian van Hooydonk lulusan Industrial Design TU Delft (1988), yang sejak 2004 lalu hingga kini beliau secara resmi menjabat sebagai Direktur Design di BMW Group, membawahi desainer-desainer pilihan BMW lainnya di seluruh dunia, Beliaulah yang memimpin tim desain yang merancang  mobil-mobil keluaran BMW seri 3, seri 6, seri 7, BMW Z4 , BMW Z9, M1, dan BMW X6, yang sudah barang tentu tidak asing bagi kita, terutama para penggemar dunia automotif

Mungkin anda pernah juga mendengar nama besar Pininfarina, sebuah car design firm ternama di Italia dan juga di dunia yang merancang mobil-mobil dari brand terkemuka semacam Ferrari, Maserati, Cadillac, Nash, Peugeot, Jaguar, Volvo, Alfa Romeo, MG, Cisitalia, dan Lancia.  Tapi anda mungkin tidak pernah mengetahui siapakah Design Director Pininfarina ? Adalah Lowie Vermeesch, pria Belgia yang merupakan alumni fakultas Industrial Design Engineering TU Delft (1992), yang secara resmi ditunjuk mengomandani Design Department Pininfarina sejak Agustus 2007 lalu membawahi desainer-desainer automotive ternama lain yang bernaung di bawah Pininfarina.

Masih ada nama lain seperti Laurens van den Acker, yang juga merupakan lulusan Fakultas Industrial Design TU Delft, yang kini menjabat sebagai Global Design Director Mazda. Membawahi desainer-desainer Mazda di Eropa; Amerika; dan juga Jepang.  Sebelumnya Acker pernah menjabat sebagai Chief Designer of Strategic Design di Ford dan mengepalai tim desainer yang merancang Ford Escape and Mercury Mariner.

Saya yakin tidak satupun dari anda yang tidak pernah menggunakan Microsoft Office; Windows XP; MSN; Internet Explorer; atau Windows Vista, bukan ? Namun saya yakin anda tidak tahu siapa perancang interface program-program Microsoft tersebut? Adalah nama besar Tjeerd Hoek alumni Fakultas Industrial Design TU Delft, beliaulah arsitek dan ujung tombak dari tim perancang interface dari semua program-program tersebut sewaktu beliau menjabat sebagai Director of User Experience Microsoft. Karya terakhir Tjeerd Hoek di Microsoft adalah interface Windows Vista sebelum akhirnya beliau memutuskan hengkang pindah sebagai Executive Creative Director di Frog Design. Bagi yang tidak tahu, Frog Design adalah design firm yang merancang brand produk Sony Trinitron dan Produk-produk Apple antara lain seri Macintosh yang legendaris itu. Karya terbarunya bersama Cees van Dok di Frog Design, yang juga merupakan alumni Industrial Design TU Delft, adalah interface Windows Media Player dan Yahoo Massenger versi 9 yang anda gunakan untuk Windows Vista (WPF-powered version of Yahoo)

Itu hanya sebagian dari nama-nama besar para alumni Industrial Design TU Delft yang dapat saya sebutkan disini, masih tidak terhitung desainer-desainer lain yang memegang posisi-posisi strategis di industri-industri multinasional, yang dapat menggambarkan bahwa tanpa disadari sebenarnya lulusan-lulusan industrial design Belanda sangat berpengaruh kuat di dunia design, dimana reputasinya tidak hanya diakui di Eropa tetapi sudah mencapai level global sejak dahulu.

Saya pernah suatu ketika bertanya pada rekan saya dari Jerman, mengapa dia memilih belajar industrial design di Belanda daripada di negaranya sendiri. Dia mengatakan selain reputasi alumninya yang luar biasa, sistem pendidikan industrial design di Belanda terutama di TU Delft memberikan pendekatan yang lebih menyeluruh pada tiap aspek perancangan produk seperti tercermin pada program spesialisasi yang ditawarkan.

Strategic Product Design mempelajari pendekatan perancangan produk yang lebih menitik beratkan pada konteks organisasi (manajemen inovasi), business development, dan market.

Design for Interaction mempelajari pendekatan perancangan produk yang menekankan pada interaksi antara produk dan manusia (user) dan experience, sementara Integrated Product Design lebih menekankan pada aspek teknologi, proses manufaktur, produksi, dan aspek-aspek perancangan produk terkait lainnya. Selain itu terdapat juga program sub spesialisasi lain semacam Automotive Design, Medical Equipment Design, Sustainability dan Design Research yang mewajibkan mahasiswanya mengambil beberapa mata kuliah khusus tambahan yang terkait dengan bidang keahlian tersebut.

Pendekatan pendidikan Industrial Design di TU Delft memang terutama lebih berorientasi pada aspek engineering nya, bukan art-design. Jika ingin memperdalam aspek konseptual, strategi perencanaan, dan inovasi teknologi dari sebuah desain, maka disini adalah tempat yang ideal. Namun jika lebih berminat untuk memperdalam pada sisi artistik dan filosofi dari desain, maka program-program yang ditawarkan oleh Desain2 Akademi atau Hogeschool lain yang ada, mungkin akan lebih sesuai…

Oleh : Stevie Heru Prabowo

Mahasiswa TU Delft, Belanda